Tampilkan postingan dengan label Al-Bakri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Al-Bakri. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Juni 2022

Kisah Syaikh Muhammad Al-bakri

Syaikh Muhammad Al-bakri        

Abū ʿUbayd ʿAbd Allāh ibn ʿAbd al-ʿAzīz ibn Muḥammad al-Bakrī (bahasa Arab: أبو عبيد عبدالله بن عبد العزيز بن محمد البكري‎, 1094–1014) adalah seorang ahli geografi dan sejarawan Spanyol-Arab. Ia lahir di Huelva, anak dari gubernur provinsi itu. Al-Bakri menghabiskan seluruh hidupnya di Spanyol, menetap di Cordova, dan tidak pernah bepergian menuju lokasi yang ia tulis.

Al-Bakri menulis mengenai EropaAmerika Utara, dan jazirah Arabia. Karya utamanya adalah Kitāb al-Masālik wa-al-Mamālik ("Book of Highways and of Kingdoms") dan Mu'jam. Karya yang pertama disebutkan dibuat tahun 1068, didasarkanpada literatur dan laporan pedagang dan pengunjung, termasuk Yusuf al-Warraq dan Abraham ben Jacob. Karyanya dikenal untuk objektivitas relatif yang disebutkan. Untuk setiap daerah, ia menjelaskan penduduknya, kebiasaannya, juga geografi, iklim, dan kota utama. Informasi itu juga berisi geografi tertulisnya mengenai Jazirah Arab, dan di ensiklopedia dimana ia menulisnya.[1] Ia juga memaparkan berbagai anekdot mengenai setiap daerah. Sayangnya, banyak bagian dari karya utamanya hilang.


Ada juga yang mengatkan : 

Namanya lengkapnya ialah Sayyid Muhammad al-Bakri, sang pencipta Shalawat Fatih. Beliau merupakan salah seorang keturunan Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq, sahabat sekaligus mertua Nabi Muhammad SAW.

Sayyid Bakri merupakan keturunan Abu Bakar yang tidak terlepas dari doa Rasulullah untuk Abu Bakar ketika dia menemani Rasulullah dengan sepenuh hati di Gua Tsur ketika dikejar-kejar kaum kafir Quraisy. Saat itu, Abu Bakar menjaga Nabi Muhammad dari sengatan hewan liar seperti ular. Ia menutup lubang-lubang di gua dengan pakaiannya. Tersisa satu lubang kecil yang belum tertutup. Akhirnya ia tutup lubang itu dengan jempolnya.

Sebab biasanya lubang-lubang di gua dihuni oleh hewan-hewan liar dan berbisa, seperti ular, kalajengking, dan hewan berbisa lainnya. Pikiran Abu Bakar benar, lubang yang ia tutup dengan jempolnya itu dihuni oleh ular. Jempol Abu Bakar digigit ular, riwayat lain menyebut kalajengking. Abu Bakar menahan sakit luar biasanya itu hingga tubuhnya gemetar, keringat bercucuran. Rasa sakit yang tak tertangguhkan ditahan agar tidak mengganggu Nabi Muhammad yang sedang tidur, sedang istirahat.


istihsan dan kedudukannya sebagai dalil

  BAB I PENDAHULUAN   Setelah abad ketiga/kesembilan, para ahli ushul fiqh mazhab Hanafi mengambil langkah-langkah yang memutus citra ...