Tampilkan postingan dengan label QUR'AN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label QUR'AN. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Juni 2022

KISAH QUR'AN

 

QASHASHUL QUR’AN

 

A.     Pendahuluan

Secara bahasa, kata qashash berasal dari bahasa Arab dalam bentuk masadar yang bermakna urusan, berita, kabar, maupun keadaan. Dalam Al-Qur’an sendiri kata qashash bisa memiliki arti mencari jejak atau bekas dan berita-berita yang berurutan.

Namun secara terminologi, pengertian qashashul qur’an adalah kabar-kabar dalam Al-Qur’an tentang keadaan-keadaan umat yang telah lalu dan kenabian masa dahulu, serta peristiwa-peristiwa yang telah terjadi. Manna Al-Khalil Al Qaththan mendefenisikan qashashul Qur’an sebagai pemberitaan Al-Qur’an tentang hal Ihwal umat-umat dahulu dan para nabi, serta peristiwa-peristiwa yang terjadi secara empiris. Dan sesungguhnya Al-Qur’an banyak memuat peristiwa-peristiwa masa lalu, sejarah umat-umat terdahulu, negara, perkampungan, dan mengisahkan kaum dengan cara shuratan nathiqah (artinya seolah-olah pembaca kisah tersebut menjadi pelaku sendiri yang menyaksikan peristiwa itu).

Adapun tujuan kisah Al-Qur’an adalah untuk  memberikan pengertian tentang sesuatu yang terjadi dengan sebenarnya dan akan dijadikan ibrah (pelajaran) dan membimbing kearah perbuatan yang baik dan benar.

 

B.     Pengertian Qashashul Qur’an

        Qashash berarti mencari bekasan atau mengikuti bekasan (jejak). Lafazd qashash adalah mashdar yang berarti mencari bekasan atau jejak. Qashashul Qur’an, ialah  khabar-khabar Al-Qur’an tentang keadaan-keadaan umat yang telah lalu dan kenabian masa dahulu, peristiwa-peristiwa yang telah terjadi.[1]

Di dalam Al-Qur’an, kata qashash memiliki beberapa pengertian, yaitu:


Q.S Al Kahfi ayat 64


 Artinya:

Dia (Musa) berkata, “Itulah (tempat) yang kita cari.” Lalu keduanya kembali  mengikuti jejak mereka semula.


Q.S Al Qashash ayat 11


         Artinya:

Dan dia (ibunya Musa) berkata kepada saudara perempuan Musa, “Ikutilah dia (Musa).” Maka kelihatan olehnya (Musa) dari jauh, sedang mereka tidak menyadarinya.


Q.S Ali Imran ayat 62


         Artinya:

Sungguh, ini adalah kisah yang benar. Tidak ada tuhan selain Allah, dan sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.

Q.S Yusuf ayat 111).

 
        Artinya:

Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat  pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. Al-qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.
        

 Secara terminologi qashash adalah kisah-kisah dalam Al-Qur’an yang menceritakan hal ihwal umat-umat terdahulu dan nabi-nabi mereka serta peristiwa-peristiwa yang telah terjadi, yang sedang terjadi, dan yang akan terjadi.
         
Al-Qur’an yang terkadang menceritakan manusia pertama, Adam dan kehidupannya, surge, neraka dan balasannya,  maupun nama dan tugas malaikat, menjadi bahan pertanyaan mereka, bahkan ejekan dari mana Muhammad mendapatkan cerita-cerita itu. Oleh karena itu, sikap mereka dijelaskan dalam Al-Qur’an (Q.S al-Mukminun:69).
Artinya :

Ataukah mereka tidak mengenal Rasul mereka (Muhammad), karena itu mereka mengingkarinya?        

 Manna al-Qaththan mengatakan bahwa kesusasteraan kisah (adab al-qishah)  telah menjadi seni khas di antara seni-seni bahasa dan sastera. Dan kisah yang benar telah membuktikan kondisi ini dalam gaya bahasa secara jelas dan menggambarkannya dalam bentuk yang paling tinggi, yakni kisah Al-Qur’an.[2]
               
Secara etimologi (bahasa), al-qashash mempunyai arti urusan (al-amr), berita (al-khabar), perbuatan (al-sya’an) dan keadaan (al-hal).vDalam kamus bahasa Indonesia, kata Al-Qashash diterjemahkan dengan kisah yang berarti kejadian, riwayat dan sebagainya.[3]

Qashash qur’an merupakan kata yang tersusun dari dua kalimat yang berasal dari bahasa Arab yakni, dari kata qashash dan qur’an. Kata qashash merupakan jamak dari qishshah yang berarti kisah, cerita atau hikayat.[4]

Al-Qur’an banyak mengandung keterangan tentang kejadian di masa lalu, sejarah bangsa-bangsa, keadaan negeri-negeri dan peninggalan atau jejak setiap umat. Ia menceritakan semua keadaan mereka dengan cara yang menarik mempesona.
         Berdasarkan pengertian di atas  maka dapat dikatakan, bahwa pada kisah-kisah yang dimuat dalam Al-Qur’an semuanya cerita benar-benar terjadi, tidak ada cerita fiksi khayal, apalagi dongeng.
Jadi bukan seperti tuduhan sebagian orientalis bahwa Al-Qur’an ada yang tidak cocok dengan fakta sejarah.[5]

Di dalam Al-Qur’an kita mendapatkan banyak kisah Nabi-Nabi, Rasul-Rasul dan umat-umat terdahulu, maka yang dimaksudkan dengan kisah-kisah itu ialah pengajaran-pengajaran dan petunjuk-petunjuk yang berguna bagi para penyeru kebenaran dan bagi orang-orang diseru pada kebenaran. Lantaran inilah maka Al-Qur’an tidak menguraikan kisahnya seperti kitab sejarah tetapi memberi petunjuk. Petunjuk itu bukan dalam mengetahui kelahiran rasul dan keturunan serta kejadian-kejadiannya. Tetapi petunjuk itu didapatkan dalam cara Rasul mengembangkan kebenaran dan dalam penderitaan-penderitaan yang di alami oleh  para Rasul itu pula.

Maka diantara maksud-maksud yang paling nyata dari kisah-kisah Al-Qur’an ialah pengajaran yang tinggi yang menjadi cermin perbandingan bagi semua umat. Didalamnya kita mendapatkan akibat kesabaran, sebagaimana sebaliknya kita mendapatkan akibat keingkaran.

Dan diantara maksud yang paling nyata ialah mengokohkan Muhammad, membuktikan kebenaran. Muhammad adalah seorang ummy yang hidup dalam masyarakat yang ummy, maka bagaimana ia dapat meriwayatkan sejarah-sejarah yang penting jika bukan dari wahyu. Dan diantaranya pula memberi petunjuk kepada para penyeru, jalan-jalan yang harus mereka tempuh dalam melaksanakan seruan dan dalam menghadapi kaum-kaum yang ingkar.

Barang siapa yang membaca surat dari surat-surat yang mengandung kisah, seperti surat Hud, nyatalah kepadanya jalan-jalan yang harus ditempuh dalam menghadapi kaum yang diseru oleh mereka. Sebagai contoh Nuh memulai seruannya dengan memperkuatkan. Hud memulai seruannya dengan memberi khabar gembira. Shalih memulai seruannya dengan memperingatkan umatnya kepada nikmat-nikmat Allah. Adapun Syu’aib mengumpulkan tandzir, tahsyir ­dan tadzkir ( memperkuatkan, memberi kabar-kabar gembira dan mengingatkan nikmat itu).

Selain dari  itu,  kisah kisah-kisah itu menerangkan betapa kesungguhan dari ketelitian Ulul ‘Azmi  dalam memberikan petunjuk kepada manusia.[6]

 

C.    Macam-Macam Qashashul Qur’an

             Kisah-kisah dalam Al-Qur’an secara garis besar terbagi atas dua bagian yaitu, kisah ditinjau dari segi waktu dan kisah di tinjau dari segi materinya.

 Kisah-kisah dalam Al-Qur’an, ditinjau dari segi waktu terbagi kepada tiga macam kisah yaitu:

1.      Kisah masa lampau (al-qashash al-ghuyub al-madhiyyah)

2.      Kisah masa kini (al-qashash al-ghuyub al-hadhirah) dan

3.      Kisah masa akan datang (al-qashsh al-ghuyub al-mustaqbalah). Agar tidak terjadi pengulangan topik bahasan, maka pembagian

kisah ini dapat dilihat kembali dalam bahasan i’jaz Al-Qur’an.

 

Kisah dalam Al-Qur’an ditinjau dari segi materinyapun dibagi tiga bagian, yaitu:

1.    Kisah para nabi terdahulu. Kisah ini mengandung informasi   tentang dakwah  mereka kepada umatnya, mukjizat- mukjizat yang dimilikinya, sikap orang-orang yang menentangnya, tahapan-tahapan dakwah dan perkembangan serta akibat yang diterima oleh orang-orang yang menerima dan mendustakan dakwah.    Misalnya qashash Nuh, Ibrahim, Musa, Yusuf,  Harun, Isa, dan lain-lain.

2.    Kisah orang-orang yang bukan Nabi dan kelompok-kelompok tertentu dengan segala kejadiannya yang diceritakan Al-Qur’an untuk dijadikan pelajaran, seperti kisah Maryam, Karun, Thaluth, Yaqut, Ashab al-Kahfi, Luqman al-Hakim dan sebagainya.

3.      Kisah tentang peristiwa-peristiwa pada masa Rasulullah, seperti perang badar, perang uhud, perang ahzab, perang tabuk, hijrah, isra dan sebagainya.[7]

 

Beserta contoh kisah dalam Al-Qur’an di tinjau dari segi waktu

1.      Kisah hal gaib yang terjadi pada masa lalu,  contohnya kisah tentang penciptaan alam semesta di dalam surah Al-Furqan.

2.      Kisah hal gaib yang terjadi pada masa kini, contohnya: kisah tentang turunnya malaikat-malaikat pada malam Lailatul Qadar seperti diungkapkan dalam surat Al-Qadar. 

3.      Kisah hal gaib yang akan terjadi pada masa yang akan datang, contohnya: kisah tentang akan datangnya hari kiamat seperti dijelaskan dalam Al-Qur’an Surat AL-Qari’ah, Surat Az-Zalzalah dan lainnya. Kisah tentang Abu Lahab kelak di akhirat seperti di ungkapkan dalam Al-Qur’an surat Al-Lahab.[8]

  

D.     Karakteristik Kisah Al-Qur’an

Fenomena kisah-kisah dalam Al-Qur’an yang diyakini kebenarannya sangat erat kaitannya dengan sejarah.  Al-Qur’an bukanlah kitab sejarah, kendati di dalamnya banyak berisi sejarah, sehingga kisah yang ditampilkannya tidak berurutan secara kronologis, sebagai yang berlaku dalam kisah pada umumnya. Al-Qur’an juga mengandung berbagai kisah yang diungkapkan berulang-ulang dalam beberapa tempat. Sebuah kisah terkadang disebutkan berulang kali dan dikemukakan dalam berbagai bentuk, di satu tempat ada bagian-bagian yang didahulukan, sedang di tempat lain di akhirkan, terkadang dikemukakan secara ringkas dan terkadang secara panjang lebar. Disamping itu, alur cerita yang banyak menonjolkan unsur dialog ketimbang informatif, sangat berbeda dengan alur cerita dalam banyak kisah atau drama.

Kenyataan yang demikian, justru merupakan keunikan dan keistimewaan tersendiri bagi Al-Qur’an, khususnya kisah. Beberapa keistimewaan yang dapat diidentifikasi di antaranya:

1.      Kisah Al-Qur’an, dalam waktu yang relatif singkat, dapat menarik perhatian pembaca, sehingga pembaca tertarik untuk mengikuti peristiwanya, merenungkan maknanya serta terkesan oleh watak pelaku kisah itu.

2.       Kisah Al-Qur’an menyentuh nurani manusia dalam keadaannya yang utuh dan menyeluruh, sebagai terjelma dalam tokoh-tokoh utama yang sengaja ditampilkannya.

3.       Kisah Al-Qur’an memberikan kesempatan mengembangkan pola pikirnya sehingga sehingga terpuaskan. Untuk karakteristik ini, ada dua bentuk yang ditampilkan Al-Qur’an. Pertama  kisah itu dilukiskan mel alui pengisyaratan, sugesti dan penerapan. Kedua melukiskan kisah melalui berpikir dan merenung.[9]

 

E.     Tujuan dan Fungsi Qashashul Al-Qur’an

Kisah Al-Qur’an bukan karya seni yang tanpa tujuan , melainkan salah satu dari metode Al-Qur’an dalam menuntun dan mewujudkan tujuan keagaamaan, ketuhannandan salah satu cara menyampaikan serta mengokohkan dakwah islam. Disamping mewujudkan tujuan pendidikan religius dan ketuhanan, gaya penyampaian Al-Qur’an mengandung nilai estetis. Sebagaimana halnya sebuah kisah yang mengandung nilai sastera yang tinggi.

Adapun tujuan umum dari kisah Al-Qur’an adalah pengambilan pelajaran ibrah dan mau’izhah , ibrah adalah kondisis yang memungkinkan orang sampai dari pengetahuan yang pengetahuan yang kongkrit kepada pengetahuan yang abstrak. Ibrah ini merupakan suatu kondisi psikis yang menyampaikan manusia untuk mengetahui intisari suatu perkara yang disaksikan dan di kondisi psikis yang menyampaikan manusia untuk mengetahui intisari suatu perkara yang disaksikan, diperhatikan, ditimbang dan disaksikan oleh manusia.[10]

1.      Tujuan Qashashul Al-Qur’an

a.             a. Menetapkan adanya wahyu dan kerasulan, Q.S Yusuf (12): 2-3

 

aaaaa

Artinya :

Sesungguhnya kami menurunkannya berupa Qur’an berbahasa Arab, agar

kamu mengerti.

Artinya:

Kami menceritakan kepadamu (Muhammad) kisah yang paling baikk dengan mewahyukan Al-Qur’an ini kepadamu dan sesungguhnya engkau sebelum itu termasuk orang yang tidak mengetahui.

 

b.      Menerangkan bahwa agama semuanya dari Allah SWT

c.       Menerangkan bahwa semua agama itu dasarnya satu dan  semuanya dari Tuhan Yang Maha Esa Q.S Al-A’raf (7): 59

Artinya:

 Sungguh kami benar-benar telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu dia berkata,”wahai kaum ku! Sembah lah Allah! Tidak ada Tuhan (sembahan) bagimu selain dia. Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab pada hari yang dahsyat (kiamat)”.

d.      Menerangkan bahwa cara yang ditempuh oleh nabi-nabi dalam berdakwah itu satu dan sambutan kaum mereka terhadap dakwahnya itu juga serupa.

e.       Menerangkan dasar yang sama antara agama yang diajarkan oleh nabi Muhammad SAW. Dengan agama nabi Ibrahim a.s secara khusus. Dengan agama-agama bangsa Israil pada umumnya dan menerangkan bahwa hubungan ini lebih erat daripada hubungan umum antara semua agama

f.       Meringankan beban jiwa atau tekanan jiwa para nabi dan orang-orang beriman.

g.       Menguatkan keimanan dan keyakinan jiwa terhadap aqidah islam dan   mengobarkan semangat berkorban baik jiwa maupun raga di jalan Allah SWT. artinya, kisah juga dimaksudkan untuk membentuk sebuah jiwa yang militant.

h.       Menumbuhkan kepercayaan diri dan ketentraman atau menghilangkan ketakutan dan kegelisahan.

i.        Membuktikan kerasulan Muhammad saw dan wahyu yang diturunkan Allah kepadanya.[11]

 

F.     Pengulangan Kisah Dalam Al-Qur’an

Sebagai telah disinggung dimuka, kisah dalam Al-Qur’an banyak di ulang -ulang hingga beberapa puluh kali. Kisah Nabi Musa dan umat-umatnya, disebutkan hamper 126 kali. Kisah Nabi Adam disebutkan dalam surah Al-Baqarah, surah Al-Maidah, dll. Kisah Nabi Ismail disebut sampai 12 kali, kisah Nabi Daud disebut 16 kali. Kisah-kisah tersebut hendaknya diulang-ulang, namun dikemukakan dalam bentuk kalimat yang berbeda-beda.

Adanya pengulangan kisah-kisah dalam Al-Qur’an ini memiliki hikmah dan tujuan tersendiri. Beberapa ulama berhasil mengidentifikasikan tujuan dan hikmah pengulangan kisah sebagai berikut:

1.      Untuk menjelaskan ketinggian mutu sastra balaghah Al-Qur’an, terbukti dengan mengungkapkan kisah dalam variasi susunan kalimat yang berbeda, sehingga tidak menimbulkan kebosanan bagi pembaca, bahkan mengasyikkan.

2.      Untuk membuktikan ketinggian mukjizat Al-Qur’an yakni bisa menjelaskan satu kisah dalam bentuk kalimat yang bermacam-macam. Orang Arab yang enggan menerima kisah-kisah Al-Qur’an tetap tidak mampu membuat serupa.

3.      Untuk memberikan aksentuasi (penekanan) terhadap kisah-kisah tertentu agar pesan-pesannya melekat pada jiwa, maka pengulangan merupakan salah satu bentuk penekanan dan salah satu bukti meningkatkan perhatian.

4.      Untuk menunjukkan perbedaan tujuan dari tiap-tiap kali pengulangan penyebutan kisah Al-Qur’an sehingga menunjukkan banyaknya tujuan penyebutan kisah sebanyak pengulangannya.[12]

 

G.    Kesimpulan

Qashahul Qur’an ialah khabar-khabar Al-Qur’an tentang keadaan-keadaan umat yang telah lalu dan kenabian masa dahulu, peristiwa-peristiwa yang telah terjadi. Al-Qur’an tidak hanya memuat kisah yang telah terjadi saja , melainkan hal yang sedang dan akan terjadi sekalipun. Ini merupakan hal indikasi  bahwa Al-Qur’an sangat luar biasa.

Kisah-kisah dalam Al-Quran secara garis besar  terbagi menjadi dua bagian, yaitu kisah ditinjau dari segi waktu dan kisah ditinjau dari seg imaterinya.

Tujuan qashash Al-Qur’an salah satu dari metode Al-Qur’an dalam menuntut dan mewujudkan tujuan keagamaan ketuhannyadan salah satu cara menyampaikan dan mengokohkan dakwah islam. Adapun tujuan umum dari kisah Al-Qur’an adalah pengambilan pelajaran.

 

 


 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

T.M. Hasbi Ash Shiddieqy, Ilmu-Ilmu Al-Qur’an, (Jakarta: Bulan Bintang, 1972

Supiana dan Karman, Ulumul Qur’an, (Bandung: Pustaka Islamika, 2002

Purwadarmita, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1984

Ahmad Warson Munawwir, Al-Munawwir Kamus Arab-Indonesia, (Surabaya: Progresif, 1997

Muhammad Al Khidir Husain, Balogat  Al-Qur’an, (Ali Al Rida Al Tunisi, 1971), hlm. 104

Tengku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, (Semarang: Pustaka Rizky Putra, 2002

Muhammad Chirjin, Al-Qur’an dan Ulumul Qur’an, (Yogyakarta: Dana Bakti Prima Yasa,1989

 

 

 

 

 

 



[1]  T.M. Hasbi Ash Shiddieqy, Ilmu-Ilmu Al-Qur’an, (Jakarta: Bulan Bintang, 1972), hlm. 187

[2]  Supiana dan Karman, Ulumul Qur’an, (Bandung: Pustaka Islamika, 2002), hlm.  244

[3]  Purwadarmita, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1984), hlm. 512

[4]  Ahmad Warson Munawwir, Al-Munawwir Kamus Arab-Indonesia, (Surabaya: Progresif, 1997), hlm. 1126

[5]  Muhammad Al Khidir Husain, Balogat  Al-Qur’an, (Ali Al Rida Al Tunisi, 1971), hlm. 104

[6] Tengku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, (Semarang: Pustaka Rizky Putra, 2002), hlm. 123-124

[7] Op.cit, hlm. 244-245

[8]  Muhammad Chirjin, Al-Qur’an dan Ulumul Qur’an, (Yogyakarta: Dana Bakti Prima Yasa,1989), hlm. 120-121

[9] Ibid,  hlm. 245-247

[10] Ibid, hal. 247-248

[11]  Ibid, hlm. 120-121

[12]  Op.cit, hlm. 249-250

istihsan dan kedudukannya sebagai dalil

  BAB I PENDAHULUAN   Setelah abad ketiga/kesembilan, para ahli ushul fiqh mazhab Hanafi mengambil langkah-langkah yang memutus citra ...