QASHASHUL QUR’AN
A.
Pendahuluan
Secara bahasa, kata qashash berasal dari bahasa Arab dalam bentuk
masadar yang bermakna urusan, berita, kabar, maupun keadaan. Dalam Al-Qur’an
sendiri kata qashash bisa memiliki arti mencari jejak atau bekas dan berita-berita yang
berurutan.
Namun secara terminologi, pengertian qashashul qur’an adalah kabar-kabar
dalam Al-Qur’an tentang keadaan-keadaan umat yang telah lalu dan kenabian masa
dahulu, serta peristiwa-peristiwa yang telah terjadi. Manna Al-Khalil Al
Qaththan mendefenisikan qashashul Qur’an sebagai pemberitaan Al-Qur’an tentang
hal Ihwal umat-umat dahulu dan para nabi, serta peristiwa-peristiwa yang terjadi secara empiris.
Dan sesungguhnya Al-Qur’an banyak memuat peristiwa-peristiwa masa lalu, sejarah umat-umat terdahulu, negara, perkampungan, dan mengisahkan kaum dengan cara
shuratan nathiqah (artinya seolah-olah pembaca kisah tersebut menjadi pelaku
sendiri yang menyaksikan peristiwa itu).
Adapun tujuan kisah Al-Qur’an adalah untuk memberikan pengertian tentang sesuatu yang
terjadi dengan sebenarnya dan akan dijadikan ibrah (pelajaran) dan membimbing
kearah perbuatan yang baik dan benar.
B. Pengertian Qashashul Qur’an
Qashash berarti mencari bekasan atau mengikuti
bekasan (jejak). Lafazd qashash adalah mashdar yang berarti mencari bekasan atau jejak. Qashashul Qur’an,
ialah khabar-khabar Al-Qur’an tentang
keadaan-keadaan umat yang telah lalu dan kenabian masa dahulu,
peristiwa-peristiwa yang telah terjadi.[1]
Di dalam Al-Qur’an, kata qashash memiliki beberapa pengertian, yaitu:
Q.S Al Kahfi ayat 64
Dia (Musa) berkata, “Itulah (tempat) yang kita cari.”
Lalu keduanya kembali mengikuti jejak
mereka semula.
Q.S Al Qashash ayat 11
Dan dia (ibunya Musa) berkata kepada saudara perempuan Musa, “Ikutilah
dia (Musa).” Maka kelihatan olehnya (Musa) dari jauh, sedang mereka tidak
menyadarinya.
Q.S Ali Imran ayat 62
Sungguh, ini adalah kisah yang benar. Tidak
ada tuhan selain Allah, dan sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.
Q.S Yusuf ayat 111).
Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu
terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai
akal. Al-qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat,
tetapi membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan
sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.
Secara terminologi qashash adalah kisah-kisah
dalam Al-Qur’an yang menceritakan hal ihwal umat-umat terdahulu dan nabi-nabi
mereka serta peristiwa-peristiwa yang telah terjadi, yang sedang terjadi, dan
yang akan terjadi.
Al-Qur’an yang terkadang menceritakan
manusia pertama, Adam dan kehidupannya, surge, neraka dan balasannya, maupun nama dan tugas malaikat, menjadi bahan
pertanyaan mereka, bahkan ejekan dari mana Muhammad mendapatkan cerita-cerita
itu. Oleh karena itu, sikap mereka dijelaskan dalam Al-Qur’an (Q.S
al-Mukminun:69).
Ataukah mereka tidak mengenal Rasul mereka
(Muhammad), karena itu mereka mengingkarinya?
Manna al-Qaththan mengatakan
bahwa kesusasteraan kisah (adab al-qishah) telah menjadi seni khas di antara seni-seni
bahasa dan sastera. Dan kisah yang benar telah membuktikan kondisi
ini dalam gaya bahasa secara jelas dan menggambarkannya dalam bentuk yang
paling tinggi, yakni kisah Al-Qur’an.[2]
Secara etimologi (bahasa), al-qashash
mempunyai arti urusan (al-amr), berita (al-khabar), perbuatan (al-sya’an)
dan keadaan (al-hal).vDalam kamus bahasa Indonesia, kata Al-Qashash diterjemahkan
dengan kisah yang berarti kejadian, riwayat dan sebagainya.[3]
Qashash qur’an
merupakan kata yang tersusun dari dua kalimat yang berasal dari bahasa Arab
yakni, dari kata qashash dan qur’an. Kata qashash merupakan jamak dari qishshah
yang berarti kisah, cerita atau hikayat.[4]
Al-Qur’an banyak mengandung keterangan tentang kejadian di masa lalu,
sejarah bangsa-bangsa, keadaan negeri-negeri dan peninggalan atau jejak setiap
umat. Ia menceritakan semua keadaan mereka dengan cara yang menarik mempesona.
Berdasarkan pengertian di atas maka dapat dikatakan, bahwa pada kisah-kisah
yang dimuat dalam Al-Qur’an semuanya cerita benar-benar terjadi, tidak ada
cerita fiksi khayal, apalagi dongeng. Jadi bukan seperti tuduhan sebagian orientalis bahwa
Al-Qur’an ada yang tidak cocok dengan fakta sejarah.[5]
Di dalam
Al-Qur’an kita mendapatkan banyak kisah Nabi-Nabi, Rasul-Rasul dan umat-umat
terdahulu, maka yang dimaksudkan dengan kisah-kisah itu ialah
pengajaran-pengajaran dan petunjuk-petunjuk yang berguna bagi para penyeru
kebenaran dan bagi orang-orang diseru pada kebenaran. Lantaran inilah maka
Al-Qur’an tidak menguraikan kisahnya seperti kitab sejarah tetapi memberi
petunjuk. Petunjuk itu bukan dalam mengetahui kelahiran rasul dan keturunan
serta kejadian-kejadiannya. Tetapi petunjuk itu didapatkan dalam cara Rasul
mengembangkan kebenaran dan dalam penderitaan-penderitaan yang di alami
oleh para Rasul itu pula.
Maka diantara
maksud-maksud yang paling nyata dari kisah-kisah Al-Qur’an ialah pengajaran
yang tinggi yang menjadi cermin perbandingan bagi semua umat. Didalamnya kita
mendapatkan akibat kesabaran, sebagaimana sebaliknya kita mendapatkan akibat
keingkaran.
Dan diantara
maksud yang paling nyata ialah mengokohkan Muhammad, membuktikan kebenaran.
Muhammad adalah seorang ummy yang hidup
dalam masyarakat yang ummy, maka
bagaimana ia dapat meriwayatkan sejarah-sejarah yang penting jika bukan dari
wahyu. Dan diantaranya pula memberi petunjuk kepada para penyeru, jalan-jalan
yang harus mereka tempuh dalam melaksanakan seruan dan dalam menghadapi
kaum-kaum yang ingkar.
Barang siapa yang membaca surat dari
surat-surat yang mengandung kisah, seperti surat Hud, nyatalah kepadanya
jalan-jalan yang harus ditempuh dalam menghadapi kaum yang diseru oleh mereka.
Sebagai contoh Nuh memulai seruannya dengan memperkuatkan. Hud memulai
seruannya dengan memberi khabar gembira.
Shalih memulai seruannya dengan memperingatkan umatnya kepada nikmat-nikmat
Allah. Adapun Syu’aib mengumpulkan tandzir,
tahsyir dan tadzkir (
memperkuatkan, memberi kabar-kabar gembira dan mengingatkan nikmat itu).
Selain dari
itu, kisah kisah-kisah itu
menerangkan betapa kesungguhan dari ketelitian Ulul ‘Azmi dalam memberikan
petunjuk kepada manusia.[6]
C. Macam-Macam Qashashul Qur’an
Kisah-kisah dalam Al-Qur’an secara garis besar
terbagi atas dua bagian yaitu, kisah ditinjau dari segi waktu dan kisah di
tinjau dari segi materinya.
Kisah-kisah
dalam Al-Qur’an, ditinjau dari segi waktu terbagi kepada tiga macam kisah yaitu:
1. Kisah masa lampau (al-qashash al-ghuyub
al-madhiyyah)
2. Kisah masa kini (al-qashash al-ghuyub al-hadhirah)
dan
3. Kisah masa akan datang (al-qashsh al-ghuyub al-mustaqbalah).
Agar tidak terjadi pengulangan topik bahasan, maka pembagian
kisah ini dapat dilihat kembali dalam
bahasan i’jaz Al-Qur’an.
Kisah dalam Al-Qur’an ditinjau dari segi materinyapun dibagi tiga bagian, yaitu:
1. Kisah para nabi terdahulu. Kisah ini mengandung informasi tentang dakwah mereka kepada umatnya, mukjizat- mukjizat yang
dimilikinya, sikap orang-orang yang menentangnya, tahapan-tahapan dakwah dan
perkembangan serta akibat yang diterima oleh orang-orang yang menerima dan
mendustakan dakwah. Misalnya
qashash Nuh, Ibrahim, Musa, Yusuf,
Harun, Isa, dan lain-lain.
2. Kisah orang-orang yang bukan Nabi dan
kelompok-kelompok tertentu dengan segala kejadiannya yang diceritakan Al-Qur’an
untuk dijadikan pelajaran, seperti kisah Maryam, Karun, Thaluth, Yaqut, Ashab
al-Kahfi, Luqman al-Hakim dan sebagainya.
3. Kisah tentang peristiwa-peristiwa pada masa
Rasulullah, seperti perang badar, perang uhud, perang ahzab, perang tabuk, hijrah, isra dan sebagainya.[7]
Beserta contoh
kisah dalam
Al-Qur’an di tinjau dari segi waktu
1. Kisah hal gaib yang terjadi pada masa lalu,
contohnya kisah tentang penciptaan alam semesta di dalam surah Al-Furqan.
2. Kisah hal gaib yang terjadi pada masa kini, contohnya: kisah tentang turunnya
malaikat-malaikat pada malam Lailatul Qadar seperti diungkapkan dalam surat
Al-Qadar.
3. Kisah hal gaib yang akan terjadi pada masa
yang akan datang, contohnya: kisah tentang akan datangnya hari kiamat seperti
dijelaskan dalam Al-Qur’an Surat AL-Qari’ah, Surat Az-Zalzalah dan lainnya.
Kisah tentang Abu Lahab kelak di akhirat seperti di ungkapkan dalam
Al-Qur’an surat Al-Lahab.[8]
D. Karakteristik Kisah Al-Qur’an
Fenomena kisah-kisah dalam Al-Qur’an yang
diyakini kebenarannya sangat erat kaitannya dengan sejarah. Al-Qur’an bukanlah kitab sejarah, kendati di
dalamnya banyak berisi sejarah, sehingga kisah yang ditampilkannya tidak
berurutan secara kronologis, sebagai yang berlaku dalam kisah pada umumnya. Al-Qur’an
juga mengandung berbagai kisah yang diungkapkan berulang-ulang dalam beberapa
tempat. Sebuah kisah terkadang disebutkan berulang kali dan dikemukakan dalam
berbagai bentuk, di satu tempat ada bagian-bagian yang didahulukan, sedang di
tempat lain di akhirkan, terkadang dikemukakan secara ringkas dan terkadang
secara panjang lebar. Disamping itu, alur cerita yang banyak menonjolkan unsur
dialog ketimbang informatif, sangat berbeda dengan alur cerita dalam banyak
kisah atau drama.
Kenyataan yang demikian, justru merupakan
keunikan dan keistimewaan tersendiri bagi Al-Qur’an, khususnya kisah. Beberapa
keistimewaan yang dapat diidentifikasi di antaranya:
1. Kisah Al-Qur’an, dalam waktu yang relatif
singkat, dapat menarik perhatian pembaca, sehingga pembaca tertarik untuk
mengikuti peristiwanya, merenungkan maknanya serta terkesan oleh watak pelaku
kisah itu.
2. Kisah Al-Qur’an menyentuh nurani manusia dalam
keadaannya yang utuh dan menyeluruh, sebagai terjelma dalam tokoh-tokoh utama
yang sengaja ditampilkannya.
3. Kisah Al-Qur’an memberikan kesempatan
mengembangkan pola pikirnya sehingga sehingga terpuaskan. Untuk karakteristik
ini, ada dua bentuk yang ditampilkan Al-Qur’an. Pertama kisah itu dilukiskan mel alui pengisyaratan, sugesti dan penerapan. Kedua melukiskan kisah melalui berpikir dan merenung.[9]
E. Tujuan dan Fungsi Qashashul Al-Qur’an
Kisah Al-Qur’an bukan karya seni yang tanpa tujuan , melainkan salah satu
dari metode Al-Qur’an dalam menuntun dan mewujudkan tujuan keagaamaan,
ketuhannandan salah satu cara menyampaikan serta mengokohkan dakwah islam. Disamping
mewujudkan tujuan pendidikan religius dan ketuhanan, gaya penyampaian Al-Qur’an
mengandung nilai estetis. Sebagaimana halnya sebuah kisah yang mengandung nilai
sastera yang tinggi.
Adapun tujuan umum dari kisah Al-Qur’an adalah pengambilan pelajaran ibrah dan mau’izhah , ibrah adalah kondisis yang memungkinkan orang sampai
dari pengetahuan yang pengetahuan yang kongkrit kepada pengetahuan yang
abstrak. Ibrah ini merupakan suatu kondisi psikis yang menyampaikan manusia
untuk mengetahui intisari suatu perkara yang disaksikan dan di kondisi psikis
yang menyampaikan manusia untuk mengetahui intisari suatu perkara yang
disaksikan, diperhatikan, ditimbang dan disaksikan oleh manusia.[10]
1. Tujuan Qashashul Al-Qur’an
a.
a. Menetapkan adanya wahyu dan kerasulan, Q.S Yusuf
(12): 2-3
aaaaa
Artinya :
Sesungguhnya kami menurunkannya berupa
Qur’an berbahasa Arab, agar
kamu mengerti.
Artinya:
Kami menceritakan kepadamu (Muhammad) kisah yang paling baikk dengan
mewahyukan Al-Qur’an ini kepadamu dan sesungguhnya engkau sebelum itu termasuk
orang yang tidak mengetahui.
b. Menerangkan bahwa agama semuanya dari Allah
SWT
c.
Menerangkan bahwa semua agama itu dasarnya satu dan semuanya dari Tuhan Yang Maha Esa Q.S Al-A’raf
(7): 59
Artinya:
Sungguh kami benar-benar telah mengutus Nuh
kepada kaumnya, lalu dia berkata,”wahai kaum ku! Sembah lah Allah! Tidak ada Tuhan (sembahan)
bagimu selain dia. Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab pada hari yang
dahsyat (kiamat)”.
d. Menerangkan bahwa cara yang ditempuh oleh
nabi-nabi dalam berdakwah itu satu dan sambutan kaum mereka terhadap dakwahnya
itu juga serupa.
e. Menerangkan dasar yang sama antara agama
yang diajarkan oleh nabi Muhammad SAW. Dengan agama nabi Ibrahim a.s secara
khusus. Dengan agama-agama bangsa Israil pada umumnya dan menerangkan bahwa
hubungan ini lebih erat daripada hubungan umum antara semua agama
f. Meringankan beban jiwa atau tekanan jiwa
para nabi dan orang-orang beriman.
g. Menguatkan
keimanan dan keyakinan jiwa terhadap aqidah islam dan mengobarkan semangat berkorban baik jiwa
maupun raga di jalan Allah SWT. artinya, kisah juga dimaksudkan untuk membentuk
sebuah jiwa yang militant.
h. Menumbuhkan
kepercayaan diri dan ketentraman atau menghilangkan ketakutan dan kegelisahan.
i.
Membuktikan kerasulan Muhammad saw dan wahyu yang
diturunkan Allah kepadanya.[11]
F. Pengulangan Kisah Dalam Al-Qur’an
Sebagai telah disinggung dimuka, kisah dalam Al-Qur’an banyak di ulang
-ulang hingga beberapa puluh kali. Kisah Nabi Musa dan umat-umatnya, disebutkan
hamper 126 kali. Kisah Nabi Adam disebutkan dalam surah Al-Baqarah, surah
Al-Maidah, dll. Kisah Nabi Ismail disebut sampai 12 kali, kisah Nabi Daud
disebut 16 kali. Kisah-kisah tersebut hendaknya diulang-ulang, namun
dikemukakan dalam bentuk kalimat yang berbeda-beda.
Adanya pengulangan kisah-kisah dalam Al-Qur’an ini memiliki hikmah dan
tujuan tersendiri. Beberapa ulama berhasil mengidentifikasikan tujuan dan
hikmah pengulangan kisah sebagai berikut:
1. Untuk menjelaskan ketinggian mutu sastra
balaghah Al-Qur’an, terbukti dengan mengungkapkan kisah dalam variasi susunan
kalimat yang berbeda, sehingga tidak menimbulkan kebosanan bagi pembaca, bahkan
mengasyikkan.
2. Untuk membuktikan ketinggian mukjizat
Al-Qur’an yakni bisa menjelaskan satu kisah dalam bentuk kalimat yang
bermacam-macam. Orang Arab yang enggan menerima kisah-kisah Al-Qur’an tetap
tidak mampu membuat serupa.
3. Untuk memberikan aksentuasi (penekanan)
terhadap kisah-kisah tertentu agar pesan-pesannya melekat pada jiwa, maka
pengulangan merupakan salah satu bentuk penekanan dan salah satu bukti
meningkatkan perhatian.
4. Untuk menunjukkan perbedaan tujuan dari
tiap-tiap kali pengulangan penyebutan kisah Al-Qur’an sehingga menunjukkan
banyaknya tujuan penyebutan kisah sebanyak pengulangannya.[12]
G. Kesimpulan
Qashahul Qur’an
ialah khabar-khabar Al-Qur’an tentang keadaan-keadaan umat yang telah lalu dan
kenabian masa dahulu, peristiwa-peristiwa yang telah terjadi. Al-Qur’an tidak
hanya memuat kisah yang telah terjadi saja , melainkan hal yang sedang dan akan
terjadi sekalipun. Ini merupakan hal indikasi
bahwa Al-Qur’an sangat luar biasa.
Kisah-kisah
dalam Al-Quran secara garis besar
terbagi menjadi dua bagian, yaitu kisah ditinjau dari segi waktu dan
kisah ditinjau dari seg imaterinya.
Tujuan qashash
Al-Qur’an salah satu dari metode Al-Qur’an dalam menuntut dan mewujudkan tujuan
keagamaan ketuhannyadan salah satu cara menyampaikan dan mengokohkan dakwah
islam. Adapun tujuan umum dari kisah Al-Qur’an adalah pengambilan pelajaran.
DAFTAR PUSTAKA
T.M. Hasbi Ash Shiddieqy, Ilmu-Ilmu Al-Qur’an, (Jakarta:
Bulan Bintang, 1972
Supiana dan Karman, Ulumul Qur’an, (Bandung: Pustaka Islamika,
2002
Purwadarmita, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai
Pustaka, 1984
Ahmad Warson Munawwir, Al-Munawwir Kamus Arab-Indonesia, (Surabaya: Progresif, 1997
Muhammad Al Khidir Husain, Balogat Al-Qur’an, (Ali Al Rida Al Tunisi, 1971),
hlm. 104
Tengku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, (Semarang: Pustaka Rizky Putra, 2002
Muhammad Chirjin, Al-Qur’an dan Ulumul Qur’an, (Yogyakarta:
Dana Bakti Prima Yasa,1989
[1] T.M. Hasbi Ash Shiddieqy, Ilmu-Ilmu
Al-Qur’an, (Jakarta: Bulan Bintang, 1972), hlm. 187
[2] Supiana dan Karman, Ulumul Qur’an, (Bandung:
Pustaka Islamika, 2002), hlm. 244
[3] Purwadarmita, Kamus Umum Bahasa Indonesia,
(Jakarta: Balai Pustaka, 1984), hlm. 512
[4] Ahmad Warson Munawwir, Al-Munawwir Kamus Arab-Indonesia, (Surabaya: Progresif, 1997), hlm.
1126
[5] Muhammad Al Khidir Husain, Balogat Al-Qur’an, (Ali Al Rida Al Tunisi, 1971),
hlm. 104
[6] Tengku
Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, Ilmu
Al-Qur’an dan Tafsir, (Semarang: Pustaka Rizky Putra, 2002), hlm. 123-124
[7] Op.cit,
hlm. 244-245
[8] Muhammad Chirjin, Al-Qur’an dan Ulumul
Qur’an, (Yogyakarta: Dana Bakti Prima Yasa,1989), hlm. 120-121
[9] Ibid, hlm. 245-247
[10] Ibid, hal. 247-248
[11] Ibid, hlm. 120-121
[12] Op.cit, hlm. 249-250