SYAIKH
WAJIHUDDIN AL-QADHI
Masyarakat Indonesia sudah akrab dengan tradisi pembacaan
maulid nabi. Salah satu kitab maulid yang cukup sering dibaca adalah maulid
Diba’. Biasanya tradisi pembacaan kitab maulid diba’ diistilahkan dengan dibaan.
Kitab maulid diba’ oleh
mayoritas ulama’ diyakini sebagai karya seorang ulama besar dan merupakan ahli
hadis (muhaddis), yaitu Imam Wajihuddin ‘Abdur Rahman bin ‘Ali bin Muhammad bin
‘Umar bin ‘Ali bin Yusuf bin Ahmad bin ‘Umar ad-Diba`i asy-Syaibani al-Yamani
az-Zabidiy asy-Syafi`iy. Imam ad-Diba`iy dilahirkan pada hari kamis tanggal 4
Muharram tahun 866 H/1461 M di rumah orang tuanya di kota Zabid. Di akhir tahun
kelahirang beliau, sang ayah pergi meninggalkan kota Zabid. Dan ad-Diba’i belum
pernah melihat bagaimana rupa sang ayah.
Masa Kecil Bin Diba`
Beliau diasuh oleh kakek dari
ibunya yang bernama Syekh Syarafuddin bin Muhammad Mubariz yang juga seorang
ulama besar yang tersohor sekaligus punya andil besar dalam perkembangan
keilmuan di kota Zabid saat itu. Hal itu dikarenakan sewaktu beliau lahir, ayahnya
sedang bepergian, dan setelah beberapa tahun kemudian baru terdengar kabar
bahwa ayahnya meninggal di daratan India. Dengan bimbingan sang kakek dan para
ulama kota Zabid, ad-Diba’i tumbuh dewasa serta dibekali berbagai disiplin ilmu
pengetahuan.
Guru-Guru ad-Diba’iy
Selain belajar kepada sang
kakek yang begitu menyayanginya, ad-Diba’iy juga berguru kepada beberapa
ulama’. Beliau belajar Alquran kepada Nuruddin bin Abi Bakr Khaththab sampai
surat Yasin. Beliau kemudian berpindah kepada Muhammad ath-Thib bin Isma’il
Mubariz, dan berhasil menghafalkan Alquran di hadapannya dalam umur 10 tahun.
Beliau juga sempat mempelajari sekaligus mempraktekkan ilmu qiraat (berbagai
bacaan Alquran), mempelajari asy-Syathibiyah, ilmu hisab, faraid, fiqh, di
hadapannya. Kemudian tahun 883 H, beliau baru berpindah kepada Taqiyyuddin
‘Umar bin Muhammad al-Fata al-Asy’ariy dan mempelajari kitab az-Zubad secara
mendalam.
Beliau kemudian berangkat
menunaikan haji dengan menggunakan uang 8 dinar warisan sang ayah, kemudian kembali
ke kota Zabid dan mendapati kedatangannya tepat hari ke empat dari meninggalnya
sang kakek.
Pada tahun 885 H. beliau
berangkat ke Makkah kembali untuk menunaikan ibadah haji yang kedua kalinya.
Sepulang dari Makkah Bin Diba` kembali lagi ke Zabid dan mempelajari ilmu Hadis
di hadapan Abi al-‘Abbas Ahmad bin Ahmad bin ‘Abd al-Lathif asy-syarjiy dengan
membaca Shohih Bukhori, Muslim, Tirmidzi, Al-Muwattho`, asy-Syifa` karya Qadhi
‘Iyyadl, dan asy-Syamail. Beliau juga mempelajari ar-Risalah karangan al-Qusyairiy
dan karya beliau lainnya. Dari berbagai karya ulama’ yang beliau pelajari ini,
Bin Diba’ mengarang kitab Ghoyatul Mathlub yang membahas tentang kiat-kiat bagi
umat muslim agar mendapat ampunan dari Allah SWT.
Ibnu Diba’ selanjutnya diberi
saran oleh Abi al-‘Abbas untuk mengunjungi seorang ahli fiqih; Bin ‘Ujail,
untuk kemudian menghadap kepada para ulama’ Bani Jaghman. Bin Diba’ akhirnya
berguru kepada Jamaluddin Abi Ahmad ath-Thahir bin Ahmad ‘Umar bin Jaghman dan
mempelajari Minhajuth Thalibin karya an-Nawawiy, al-Hawi ash-Shaghir dan
ringkasannya karya al-bariziy, nadhamnya karya Bin al-Waradiy. Bin Diba’ juga
belajar hadis kepada Abi Ishaq Ibrahim bin Abi al-Qasim bin Jaghman. Di
hadapannya, Bin Diba’ membaca al-Adzkar karya an-Nawawiy, as-Syamail, dan
lainnya.
Pada tahun 897 H, beliau
menjalankan haji untuk ketiga kalinya, yang kemudian mempertemukan beliau
dengan ulama’ hadis kenamaan; Syamsuddin Muhammad bin ‘Abdurrahman as-Sakhawiy
al-Mishriy. Bin Diba’ mempelajari berbagai ilmu hadis serta meriwayatkan
berbagai kitab hadis. Kepandaian Bin Diba’ membuat sang guru amat menyeganinya
dan mengutamakannya dari murid-muridnya yang lain. Bin Diba’ kemudian kembali
ke Zabid dan mengarang Kasyfu Kurbah yang menjabarkan isi doa Imam Abi Haubah,
dan Bughyat al-Mustafid menceritakan tentang kota Zabid. Bughyat al-Mustafid
ternyata menarik perhatian ‘Amir bin ‘abdul Wahhab; pengusa waktu itu yang
kemudian berkenan memberikan beberapa koreksi pada karya itu. Dari sinilah
kemudian Bin Diba’ meringkas kitabnya tersebut dan dinamai al-‘Aqdu al-Bahir fi
Tarikh Daulat Bani Thahir.
Tentang kota Zabid
Kota ini sudah dikenal sejak
masa hidupnya Nabi Muhammad SAW., tepatnya pada tahun ke 8 Hijriyah. Dimana
saat itu datanglah rombongan suku Asy`ariyah (diantaranya adalah Abu Musa
Al-Asy`ari) yang berasal dari Zabid ke Madinah Al-Munawwarah untuk memeluk
agama Islam dan mempelajari ajaran-ajarannya. Karena begitu senangnya atas
kedatangan mereka Nabi Muhammad SAW. berdoa memohon semoga Allah SWT.
memberkahi kota Zabid dan Nabi mengulangi doanya sampai tiga kali (HR.
Al-Baihaqi). Dan berkat berkah doa Nabi, hingga saat ini, nuansa tradisi
keilmuan di Zabid masih bisa dirasakan. Hal ini karena generasi ulama di kota
ini sangat gigih menjaga tradisi khazanah keilmuan Islam.
Pelajaran penting dari ad-Diba’i
Dikisahkan, Bin Diba’
mempunyai kebiasaan untuk membaca surat Al-Fatihah dan menganjurkan kepada
murid-murid dan orang sekitarnya untuk sering membaca surat Al-Fatihah.
Sehingga setiap orang yang datang menemui beliau harus membaca Fatihah sebelum
mereka pulang. Hal ini disebabkan karena beliau pernah mendengar salah seorang
gurunya pernah bermimpi bahwa hari kiamat telah datang. Lalu beliau mendengar
suara, “Wahai orang Yaman masuklah ke surga Allah.”
Lalu orang-orang bertanya,
“Kenapa orang-orang Yaman bisa masuk surga?”
“Karena mereka sering membaca
surat Al-Fatihah.”
Karya ad-Diba’i
Bin Diba` termasuk ulama yang
produktif dalam menulis. Hal ini terbukti beliau mempunyai banyak karangan baik
dibidang hadis ataupun sejarah. Karyanya yang paling dikenal adalah syair-syair
sanjungan (madah) atas Nabi Muhammad SAW. yang terkenal dengan sebutan Maulid
Diba`i,
Diantara buah karyanya yang
lain: Qurratul `Uyun yang
membahas tentang seputar Yaman, kitab Mi`raj, Taisirul Ushul, Bughyatul Mustafid, Mishbah al-Misykat,
Tamyiz at-Thib min al-Khabis, dan beberapa bait syair.
Akhir Hayat Bin Diba’
Beliau mengabdikan dirinya
hinga akhir hayatnya sebagai pengajar dan pengarang kitab. Bin Diba’ wafat di
kota Zabid pada pagi hari Jumat tanggal 26 Rojab 944 H/1537 H. (RM)
