SYAIK MUHAMMAD AN-NAJJARI
Salah satu ulama yang sangat masyhur di
kalangan mazhab Syafi’iyah adalah Syekh Muhammad bin Najjar ad-Dimyathi. Ia
tidak hanya figur ulama yang sangat alim tapi juga salah satu ulama yang
memiliki jasa besar dalam perkembangan Islam, khususnya ilmu Al-Qur’an dan fiqih. Ia juga memiliki suara yang
merdu nan indah, sehingga bacaan Al-Qur’annya mampu membuat orang lain merasa
tersentuh dengan kandungan dan isinya.
Perjalanan Intelektual Syekh Muhammad
an-Najjar
Nama lengkapnya adalah Aminuddin Muhammad bin
Ahmad bin Isa bin an-Najjar ad-Dimyathi. Ia dilahirkan di desa Qahirah, salah
satu desa yang terletak di kota Mesir. Hanya saja, pada masa pertumbuhannya,
ibunya pindah dari desa Qahirah menuju desa Dimyath, salah satu kota yang
terletak di Laut Tengah, tepatnya di muara Delta sungai Nil.
Menurut salah satu riwayat, Muhammab bin
Najjar dilahirkan pada tanggal 14 Dzulhijjah, tahun 845 H. Ada juga yang
mengatakan, ia dilahirkan pada bulan Jumadal Ula tahun 762 H. Sedangkan
mengenai wafatnya, para ulama pun berbeda pendapat. Ada yang mengatakan beliau
wafat pada malam Sabtu, 27 bulan Dzulqa’dah 928 H, ada juga yang mengatakan 27
Dzulqa’dah 929 H. (Najmuddin al-Ghazzi, al-Kawakibus Sa’irah bi A’yanil
Miatil ‘Asyirah, [Lebanon: Darul Kutubil ‘Ilmiah, 1997, juz I, h. 32).
Pada mulanya, Muhammad an-Najjar mendapatkan
bimbingan langsung dari ayahnya. Ketekunan dan rasa haus akan ilmu pengetahuan
sangat tampak darinya. Semua ilmu yang dimiliki ayahnya ia lahap secara perlahan.
Semangatnya sangat menggelora. Ilmu pertama yang ia pelajari dan sangat
ditekuni adalah Al-Qur’an.
Selain belajar kepada orang tuanya, ia juga
belajar kepada guru-guru Al-Qur’an yang ada pada desa Dimyath saat itu. Di
antara gurunya adalah (1) Syekh Ibnu Asad, (2) Syekh Abdud Daim, (3) Syekh
Nurul Imam, dan beberapa guru Al-Qur’an lainnya. Dari guru-guru tersebut,
An-Najjar memiliki perkembangan yang sangat pesat dalam masalah Al-Qur’an.
Bahkan, pada umur yang masih relatif muda, ia sudah mampu menghafalkan
Al-Qur’an dan beberapa matan kitab lainnya.
Setelah Muhammad an-Najjar belajar Al-Qur’an,
tiba saatnya untuk mengembara ilmu-ilmu yang lain kepada para ulama-ulama
tersohor di Mesir saat itu. Ia belajar ilmu hadits kepada Syekh Syamsu bin ‘Imad,
Syekh Syihab al-Hijazi, Syekh Jalal bin al-Mulaqqin. Dalam ilmu fiqih, ia
belajar kepada Syekh Zain bin Abdul Lathif, Syekh al-Manawi, dan Imam
al-‘Ubbadi dan beberapa guru lainnya.
Di bawah bimbingan ulama-ulama tersohor ini,
ia tumbuh sebagai sosok yang sangat semangat. Tidak ada waktu yang ia
sia-siakan, semuanya digunakan untuk mempelajari ilmu dan memperluas
wawasannya. (Syamsuddin As-Sakhawi, ad-Dlauul Lami’ li Ahlil Qurunit
Tasi’, [Maktabah al-Hayah, cetakan pertama: 2000], juz III: h. 373).