Tampilkan postingan dengan label muhammad an-najjari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label muhammad an-najjari. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Juni 2022

kisah syaikh muhammad an-najjari

 

 

SYAIK MUHAMMAD AN-NAJJARI

Salah satu ulama yang sangat masyhur di kalangan mazhab Syafi’iyah adalah Syekh Muhammad bin Najjar ad-Dimyathi. Ia tidak hanya figur ulama yang sangat alim tapi juga salah satu ulama yang memiliki jasa besar dalam perkembangan Islam, khususnya ilmu Al-Qur’an dan fiqih. Ia juga memiliki suara yang merdu nan indah, sehingga bacaan Al-Qur’annya mampu membuat orang lain merasa tersentuh dengan kandungan dan isinya.

 

Perjalanan Intelektual Syekh Muhammad an-Najjar

Nama lengkapnya adalah Aminuddin Muhammad bin Ahmad bin Isa bin an-Najjar ad-Dimyathi. Ia dilahirkan di desa Qahirah, salah satu desa yang terletak di kota Mesir. Hanya saja, pada masa pertumbuhannya, ibunya pindah dari desa Qahirah menuju desa Dimyath, salah satu kota yang terletak di Laut Tengah, tepatnya di muara Delta sungai Nil.

 

Menurut salah satu riwayat, Muhammab bin Najjar dilahirkan pada tanggal 14 Dzulhijjah, tahun 845 H. Ada juga yang mengatakan, ia dilahirkan pada bulan Jumadal Ula tahun 762 H. Sedangkan mengenai wafatnya, para ulama pun berbeda pendapat. Ada yang mengatakan beliau wafat pada malam Sabtu, 27 bulan Dzulqa’dah 928 H, ada juga yang mengatakan 27 Dzulqa’dah 929 H. (Najmuddin al-Ghazzi, al-Kawakibus Sa’irah bi A’yanil Miatil ‘Asyirah, [Lebanon: Darul Kutubil ‘Ilmiah, 1997, juz I, h. 32).

 

Pada mulanya, Muhammad an-Najjar mendapatkan bimbingan langsung dari ayahnya. Ketekunan dan rasa haus akan ilmu pengetahuan sangat tampak darinya. Semua ilmu yang dimiliki ayahnya ia lahap secara perlahan. Semangatnya sangat menggelora. Ilmu pertama yang ia pelajari dan sangat ditekuni adalah Al-Qur’an.

 

Selain belajar kepada orang tuanya, ia juga belajar kepada guru-guru Al-Qur’an yang ada pada desa Dimyath saat itu. Di antara gurunya adalah (1) Syekh Ibnu Asad, (2) Syekh Abdud Daim, (3) Syekh Nurul Imam, dan beberapa guru Al-Qur’an lainnya. Dari guru-guru tersebut, An-Najjar memiliki perkembangan yang sangat pesat dalam masalah Al-Qur’an. Bahkan, pada umur yang masih relatif muda, ia sudah mampu menghafalkan Al-Qur’an dan beberapa matan kitab lainnya.

 

Setelah Muhammad an-Najjar belajar Al-Qur’an, tiba saatnya untuk mengembara ilmu-ilmu yang lain kepada para ulama-ulama tersohor di Mesir saat itu. Ia belajar ilmu hadits kepada Syekh Syamsu bin ‘Imad, Syekh Syihab al-Hijazi, Syekh Jalal bin al-Mulaqqin. Dalam ilmu fiqih, ia belajar kepada Syekh Zain bin Abdul Lathif, Syekh al-Manawi, dan Imam al-‘Ubbadi dan beberapa guru lainnya.

 

Di bawah bimbingan ulama-ulama tersohor ini, ia tumbuh sebagai sosok yang sangat semangat. Tidak ada waktu yang ia sia-siakan, semuanya digunakan untuk mempelajari ilmu dan memperluas wawasannya. (Syamsuddin As-Sakhawi, ad-Dlauul Lami’ li Ahlil Qurunit Tasi’, [Maktabah al-Hayah, cetakan pertama: 2000], juz III: h. 373).

 

istihsan dan kedudukannya sebagai dalil

  BAB I PENDAHULUAN   Setelah abad ketiga/kesembilan, para ahli ushul fiqh mazhab Hanafi mengambil langkah-langkah yang memutus citra ...