Minggu, 05 Juni 2022

Kisah Syech Ma'ruf Al-Karkhi

Kisah Syech Ma'ruf Al-Karkhi

 Nama lengkapnya adalah Ma’ruf bin Faizan Abu Mahfudz al-Ibid bin Firus al-Karkhi. Ia adalah seorang ulama sufi yang dikenal dengan al-Karkhi, sebuah nama yang dinibatkan kepada nama tempat kelahirannya.

Dalam buku terbarunya yang berjudul “Allah dan Alam Semesta”, Prof KH Said Aqil Siroj menjelaskan hampir semua sumber-sumber sejarah yang ada sepakat bahwa Ma’ruf al-Karkhi adalah orang pertama yang membakukan dasar pengertian tasawuf.

Menurut Ma’ruf al-Karkhi, tasawuf adalah merengkuh segenap hakikat Ilahi, dan berpaling serta menanggalkan segenap yang ada di tangan makhluk. Dari definisi ini, menurut Said Aqil, Ma’ruf al-Karkhi menempatkan tasawuf sebagai wasilah atau instrumen mencapai ma’rifah atau pengetahuan esoteris. Subyek atau aktor ma’rifah sendiri disebut al-‘arif.

Dalam pandangan Ma’ruf al-Karkhi, tasawuf adalah kecenderungan metafisis yang didambakan setiap jiwa manusia untuk mencapai tingkat fana dan bersatu (ittihad) dengan Yang Bersifat Ilahi. Selain itu, tasawuf juga adalah zuhud atau praktik asketisme.

“Singkatnya, dalam pandangan Ma’ruf, tasawuf adalah ma’rifah dan zuhud,” tulis Said Aqil.

Selain itu, menurut Said Aqil, Ma’ruf al-Karkhi juga dikenal sebagai sufi yang pertama kali memperkenalkan satu bentuk tarekat dalam tasawuf. Ia juga yang pertama mengangkat ide tentang al-wilayah (mabuk spiritual) karena kecintaan kepada Allah SWT, dan ia merasa baru sadar setelah bersua dengan-Nya.

Dengan pula Ma’ruf al-Karkhi melihat bahwa fana-nya orang-orang bertakwa adalah sebuah keabadian dan kematian mereka adalah sebuah kehidupan, sebagimana diungkap dalam syairnya, “Kematian orang-orang bertakwa adalah sebuah kehidupan yang kukuh dan kebal; mereka bisa saja mati, tapi di tengah manusia mereka sebenarnya hidup.”

Kisah Syech Sirri As-Saqhati

Syech Sirri As-Saqhati

Sufi yang satu ini dikenal sebagai paman sekaligus guru Imam Junaid Al Baghdadi. 

Bernama lengkap Abi al-Hasan Sarri ibn al-Mughalis as-Saqathy, ulama besar dengan kemampuan ilmu pengetahuan yang sulit dicari bandingannya. 

Sirri As Saqathi menguasai ilmu hadis, ilmu fikih, ilmu sejarah, ilmu tasawuf, ilmu kalam, dan filsafat.

Tak dikenal sekadar ahli ilmu, tetapi ahli amal yang menghabiskan waktunya semata-mata hanya untuk beribadah kepada Allah swt. 

Kegigihan Sirri As Saqathi dalam beribadah tentu sudah tidak diragukan lagi. Inilah yang menjadikannya seorang sufi masyhur hingga sekarang.

Dikisahkan suatu hari pasar di kota Bagdad terbakar. Padahal saat itu Sirri As Saqathi mempunyai toko di pasar tersebut. Mendengar pasar terbakar, ia pun segera menuju ke tempat kejadian.

Namun, di tengah jalan ada seseorang yang tergopoh-gopoh menemui Sirri As Saqathi. ”Api tidak sampai menjalar ke tokomu,” katanya.

Mendengar hal itu Sirri As Saqathi langsung mengucapkan, ”Alhamdulillah!”

Ucapan ini ternyata menjadi ucapan alhamduillah pertamanya setelah 30 tahun tidak mengucapkannya. 

Sirri As Saqathi mengaku yang dipikirkannya saat itu adalah tokonya tidak terbakar. Ucapan alhamudilllah menunjukkan bahwa aku bersyukur bahwa api tidak membakar tokomu. 

Dengan demikian, aku merasa telah rela toko-toko orang lain terbakar! Kemudian aku merasa menyesal, karena mensyukuri keberuntunganku sendiri di atas penderitaan orang lain.”

“Itulah alhamdulillah pertamaku setelah sebelumnya selama 30 tahun hanya beristighfar kepada Allah,” katanya.

  

Sabtu, 04 Juni 2022

Kisah Daud At-Tho'i

 

Kisah Daud Ath-Tho'i 


Mengapakah engkau tidak menikah?” beberpa orang bertanya kepada Daud Ath-Tha’i. “Aku tidak mau mendustai seorang wanita yang beriman.”

JERNIH—Sebagaimana lazimnya, kaum sufi memang hidup berkekurangan. Tetapi Daud Ath Thai menjalani yang terberat dari itu.  

Daud Ath-Tha’i menjalani kehidupan yang sedemikian prihatin sehingga untuk makanannya ia sering mencelupkan roti ke dalam air, kemudian mereguk air itu, sambil berdalih : “Sebelum memakan roti ini aku masih sempat membaca lima puluh ayat al-Quran. Mengapa harus kusia-siakan hidupku ini?”

Kita akan takjub dengan kezuhudan Daud. Beliau beliau adalah seorang wali Allah yang tidak mau sedetik pun hatinya dilalaikan oleh dunia, walau hanya mengangkat sebuah kendi. Ini adalah sebuah perbuatan orang Muqarrabiin (Orang yang hatinya selalu dekat dan mengingat Allah, di bawah para Nabi, dan di atas orang sholeh), dimana kebaikan orang sholeh masih bisa dianggap sebagai suatu kejahatan bagi orang Muqarrabin.

Sebagai contoh mencari rezeki yang halal untuk keluarga adalah suatu ibadah dan kebaikan bagi orang sholeh dan orang awam, tetapi bagi sebagian orang Muqarrabin itu sudah cukup mengganggu mereka dari mengingat Allah. Akan tetapi tidak semua orang Muqarrabin bersikap demikian, ini tergantung kepada watak-watak dan kelebihan dari masing-masing mereka.

Daud Ath-Tha’i menghabiskan uang 20 dinar selama 20 tahun hingga wafatnya. Uang tersebut berasal dari hasil warisan, sehingga selama itu beliau tidak disibukkan dengan mencari rezeki lagi dan beliau juga tidak menikah.

Para Muqarrabin yang berwatak demikian adalah para wali Allah yang berwatak Nabi, yakni hanya untuk diri sendiri dan tidak baik untuk semua orang. Sedangkan para Muqarrabin yang berwatak Rasul contohnya para Imam 4 Mazhab, dan Ulama-ulama yang menjadi pemimpin bagi sebagian kaumnya. Mereka bukan saja diberi kelebihan hati, tetapi diberi juga kelebihan akal yang bisa mengontrol hati mereka yang begitu takut dan cinta kepada Allah.

Papanya Kehidupan Daud Ath Thai

Sejak kecil batinnya dicekam duka sehingga ia sering menghindarkan diri dari pergaulan. Yang menyebabkan pertaubatannya adalah seorang wanita yang sedang berkabung, yang membacakan :

Pipimu yang manakah

yang mulai kendur?

Dan matamu yang

manakah yang mulai kabur?

Kesedihan mencekam batinnya dan kegelisahan tak dapat diatasinya. Dalam keadaan seperti inilah ia belajar di bawah bimbingan Abu Hanifah.

“Apakah yang telah terjadi terhadap dirimu?”, tanya Abu Hanifah kepadanya.

Daud Ath-Tha’i pun mengisahkan pengalamannya,. Kemudian dia menambahkan : “Dunia ini tidak dapat menarik hatiku lagi. Sesuatu  telah terjadi di dalam diriku, sesuatu yang tak dapat kumengerti, yang tak dapat dijelaskan oleh buku-buku atau pun keterangan-keterangan para ahli yang kutemukan.”

“Hindarkanlah manusia-manusia lain,” Abu Hanifah menyarankan. Maka Daud Ath-Tha’I berpaling dari manusia-manusia lain dan mengucilkan diri di dalam rumahnya. Setelah lama berselang barulah Abu Hanifah datang mengunjunginya. “Wah, caranya bukan dengan bersembunyi di dalam rumah tanpa mengucapkan sepatah kata pun juga. Yang harus engkau lakukan adalah duduk di kaki para imam dan mendengarkan ajaran-ajaran mulia yang mereka kemukakan. Tanpa mengucapkan sepatah kata jua pun engkau harus mencamkan segala sesuatu yang mereka kemukakan itu. Dengan berbuat demikian engkau akan lebih memahami masalah-masalah yang mereka perbincangkan itu daripada mereka sendiri.”

Setelah menyadari maksud dari kata-kata Abu Hanifah itu, Daud Ath-Tha’i kembali mengikuti pelajaran-pelajarannya. Setahun lamanya ia duduk di kaki para imam, tanpa mengucapkan sepatah kata, menerima keterangan-keterangan mereka dengan tekun, dan cukup dengan mendengarkan saja tanpa memberi atau mengajukan tanggapan.

Setelah berakhir masa setahun itu Daud berkata : “Ketekunanku dalam setahun itu adalah sama dengan tiga puluh tahun bekerja keras.”

Kemudian ia bertemu dengan Habib ar-Ra’i yang membawanya ke jalan para sufi. Jalan ini ditempuhnya dengan tawakal, buku-buku yang dimilikinya dilemparkannya ke dalam sungai, kemudian ia mengasingkan diri dan membuang segala harapan dari manusia manusia lain.

Daud menerima uang sebanyak dua puluh dinar sebagai warisan. Jumlah ini dihabiskannya dalam waktu dua puluh tahun. Beberapa orang syeikh mencela perbuatannya itu.

“Di atas jalan ini kita harus memberi, bukan menabung untuk diri sendiri,” kata mereka. “Dengan uang sebanyak ini aku dapat menenangkan diriku. Uang sebanyak ini cukup bagi diriku hingga mati nanti,”kata Daud Ath-Tha’i.

Daud Ath-Tha’i menjalani  kehidupan yang sedemikian prihatin sehingga untuk makanannya ia sering mencelupkan roti ke dalam air, kemudian mereguk air itu, sambil berdalih : “Sebelum memakan roti ini aku masih sempat membaca lima puluh ayat al-Quran. Mengapa harus kusia-siakan hidupku ini?”

Abu Bakr bin ‘Iyasy meriwayatkan : “Pada suatu ketika aku masuk ke dalam kamar Daud Ath-Tha’i. Kulihat ia sedang memegang sepotong roti kering dan menangis. “Apakah yang telah terjadi Daud Ath-Tha’i? Tanyaku. Daud menjawab : “Aku hendak memakan roti ini tetapi aku tidak tahu apakah roti ini halal atau tidak.”

Yang lain meriwayatkan : “Aku pergi ke rumah Daud Ath-Tha’i dan kulihat satu kendi air sedang terjemur di terik matahari. Aku bertanya kepadanya, “Mengapakah engkau tidak menaruh kendi air itu di tempat yang teduh? Daud Ath-Tha’i menjawab : “Ketika tadi kutaruh di situ tempat itu masih teduh. Tetapi sekarang untuk memindahkannya aku merasa malu untuk melakukan kesibukan di depan Allah.”

Anekdot-anekdot seputar Daud

Diriwayatkan, bahwa Daud Ath-Tha’i pernah mempunyai sebuah rumah gedung besar dengan kamar-kamar yang banyak jumlahnya. Ia menempati salah satu di antara kamar-kamar itu, dan apabila kamar itu hancur dimakan usia, barulah ia pindah ke kamar yang lain.

“Mengapakah engkau tidak memperbaiki kamar itu?” seseorang bertanya kepada Daud Ath-Tha’i. “Aku telah berjanji kepada Allah tidak akan memperbaiki dunia ini,” jawab Daud Ath-Tha’i.

“Atap kamarmu telah lapuk,” seorang tamu berkata kepadanya,” tidak lama lagi pasti ambruk. Lambat laun seluruh bangunan itu runtuh, tidak sesuatu pun yang masih utuh kecuali serambinya. Pada malam kematian Daud Ath-Tha’i, barulah serambi itu runtuh.

“Sudah dua puluh tahun lamanya aku tidak pernah memperhatikan atap kamarku ini,” jawab Daud Ath-Tha’i.

**

“Mengapakah engkau tidak menikah?” beberpa orang bertanya kepada Daud Ath-Tha’i. “Aku tidak mau mendustai seorang wanita yang beriman.” “Mengapa demikian.?” “Andaikanlah aku melamar seorang wanita, hal itu berarti bahwa aku sanggup untuk menafkahinya. Tetapi karena pada waktu yang bersamaan aku tidak dapat melakukan kewajiban-kewajiban agama dan dunia, bukankah hal itu berarti bahwa aku telah mendustainya?”

“Baiklah, tetapi setidak-tidaknya engkau perlu menyisir janggutmu,” kata mereka.

“Hal itu berarti aku sempat berlalai-lalai,” jawab Daud Ath-Tha’i.

**

Pada suatu malam di bulan pernama, Daud Ath-Tha’i naik ke atas loteng rumahnya, lalu menatap langit. Ia terlena menyaksikan keindahan kerajaan Allah, sehingga menangis sampai tidak sadarkan diri, dan terjatuh ke loteng rumah tetangga. Si tetangga yang mengira ada maling di atas atap, datang memburu dengan sebilah pedang. Tetapi begitu yang dijumpainya Daud Ath-Tha’i segeralah ia meraih Daud Ath-Tha’i untuk berdiri.

“Siapa yang telah menjerumuskanmu?” tanyanya.

“Entahlah,” jawab Daud Ath-Tha’i. “Aku tidak sadar. Aku sendiri pun tidak habis pikir.”

**

Pada suatu saat ketika orang-orang menyaksikan Daud Ath-Tha’i bergegas-gegas hendak melakukan shalat. “Mengapa engkau tergesa-gesa seperti ini?” tanya mereka.

“Pasukan yang berada di gerbang kota sedang menantikan kedatanganku,” jawab Daud Ath-Tha’i.

“Pasukan siapa?” tanya mereka.

“Penghuni–penghuni kubur,” jawab Daud Ath-Tha’i.

**

Harun  ar-Rasyid meminta Abu Yusuf supaya mengantarkannya ke rumah Daud Ath-Tha’i. Maka pergilah  mereka ke rumah Daud Ath-Tha’i, tetapi tidak diperkenankan masuk. Abu Yusuf memohon agar Ibu Daud Ath-Tha’i mau membujuk anaknya.

“Terimalah mereka,” Ibunya membujuk Daud Ath-Tha’i.

“Apakah urusanku dengan penduduk dunia dan orang-orang berdosa?” jawab Daud Ath-Tha’i tidak mau mengalah.

“Demi hakku yang telah menyusuimu, aku minta kepadamu, izinkanlah mereka masuk!.” Desak ibunya. Maka berserulah Daud Ath-Tha’i : “Ya Allah, Engkau telah berkata : “Patuhilah ibumu, karena keridhaan-Ku adalah keridhaannya,”. Jika tidak demikian, apakah peduliku kepada mereka itu?”

Akhirnya Daud Ath-Tha’I bersedia menerima mereka. Harun Ar-Rasyid dan Abu Yusuf masuk dan duduk. Daud Ath-Tha’I memberikan pengajaran dan Harun Ar-Rasyid menangis tersedu-sedu. Ketika hendak kembali ke istana, Harun meletakkan sekeping mata uang emas sambil berkata : “Uang ini halal.”

“Ambillah uang itu kembali,” kata Daud Ath-Tha’i. “Aku tidak memerlukan uang itu. Aku telah menjual rumah yang kuterima sebagai warisan yang halal dan hidup dengan uang penjualan itu. Aku telah memohon kepada Allah, jika uang itu telah habis, agar Dia mencabut nyawaku, sehingga aku tidak akan membutuhkan bantuan dari seorang manusia pun. Aku berkeyakinan bahwa Allah telah mengabulkan permohonanku itu.”

Harun ar-Rasyid dan Abu Yusuf kembali ke istana. Kemudian Abu Yusuf mendatangi orang yang diamanahkan uang itu oleh Daud Ath-Tha’i dan bertanya : “Masih berapakah uang Daud Ath-Tha’i yang tersisa?”

“Dua dirham,” jawab orang itu. “Setiap hari Daud Ath-Tha’i membelanjakan satu sen uang perak.”

Abu Yusuf membuat perhitungan. Beberapa hari kemudian di dalam masjid di depan semua jama’ah ia mengumumkan :

“Hari ini Daud Ath-Tha’i meninggal dunia.”

Setelah diselidiki ternyata bahwa kata-kata Abu Yusuf itu benar.

“Bagaimanakah engkau mengetahui kematian Daud Ath-Tha’i?” orang-orang bertanya kepada Abu Yusuf.

“Aku telah memperhitungkan bahwa pada hari ini Daud Ath-Tha’i tidak mempunyai uang lagi. Aku tahu bahwa doa Daud Ath-Tha’i pasti dikabulkan Allah.” [  ]

Dari Kitab “Tadzkiratul Auliya” Karya Fariduddin At-Tar

 

Jumat, 03 Juni 2022

Kisah Syech Habib Al-Ajami

Kisah Syech Habib Al-Ajami 

 Habib ibnu Muhammad al‘Ajami al-Bashri, seorang Persia yang tinggal di Basrah adalah seorang perawi terkemuka yang meriwayatkan dari Hasan BashriIbnu Sirin, dan yang lainnya. Ke­berpalinganya dari kesenangan hidup dan dari memperturutkan hawa nafsu, dipicu oleh kefasihan Hasan Bashri, Habib sering menghadiri ceramah-ceramahnya, (dan akhirnya menjadi salah satu murid terdekatnya).

Awalnya, Habib adalah seorang laki-laki yang kaya raya dan juga seorang lintah darat. Ia tinggal di Basrah. Setiap hari ia berkeliling kota menagih orang-orang yang berutang padanya. Bila tak ada uang, ia akan meminta pembayaran dengan kulit domba untuk bahan sepatunya. Begitulah mata pencariannya.

Suatu hari, ia pergi untuk menemui seseorang yang berutang padanya. Namun orang itu tidak ada di rumah. Karena gagal menemui orang itu, ia pun meminta pembayaran dengan kulit domba.“Suamiku tak ada di rumah,” tutur istri si pengutang itu padanya. “Aku sendiri tak punya apa-apa. Kami telah menyembelih seekor domba, tapi, kini tinggal lehernya yang tersisa. Bila kau mau, aku akan memberikan padamu.”
“Boleh juga,” ujar Habib, ia berpikir bahwa setidaknya bisa ia membawa pulang leher domba itu. “Panaskan panci!”
“Aku tidak punya roti ataupun bahan bakar,” kata wanita itu.“Baiklah,” kata Habib. “Aku akan pergi mengambil roti dan bahan bakar, dan semuanya akan kuperhitungkan dengan kulit domba. ”Habib pun pergi dan mengambil roti serta bahan bakar.

Wanita itu menyiapkan panci. Masakan itu pun matang, dan si wanita hendak menuangkannya ke dalam sebuah mangkuk. Saat itu, seorang pengemis mengetuk pintu. “Jika kami memberimu apa yang kami miliki,” teriak Habib, “kau tak akan menjadi kaya, sementara kami sendiri akan menjadi miskin!

”Pengemis itu dengan putus asa, meminta wanita itu untuk menuangkan sesuatu ke mangkuknya. Wanita itu mengangkat tutup panci dan melihat bahwa seluruh isinya telah berubah menjadi darah. Wanita itu menjadi pucat, ia bergegas menemui Habib dan menarik tangannya, membawanya mendekati panci itu. “Lihatlah apa yang telah terjadi akibat praktik riba terkutukmu itu, dan akibat caci-makimu kepada. pengemis itu!” pekik wanita itu.

“Apa yang akan menimpa kita sekarang di dunia ini, belum lagi di akhirat kelak?” Melihat hal ini, Habib merasa seakan-akan kobaran api di dalam tubuhnya yang tak akan pernah surut. “Wahai wanita,” ujarnya; “aku menyesali segala, yang pernah kulakukan.”

Esok harinya Habib kembali pergi menemui orang-orang yang berutang padanya untuk menagih. Hari itu hari Jumat, anak-anak terlihat bermain di jalan. Ketika mereka melihat Habib, mereka berteriak, “Jangan dekat-dekat, agar debunya tidak menempel pada tubuh kita dan membuat kita terkutuk seperti dirinya. ”Kata-kata itu sangat menyakiti Habib, Ia kemudian menuju gedung pertemuan, di sana Hasan Bashri sedang berceramah. Kebetulan, ada kata-kata Hasan Bashri yang benar-benar menghenyakkan hati Habib, hingga membuatnya jatuh pingsan. Ia pun bertobat. menyadari apa yang telah terjadi, Hasan Bashri memegang tangan Habib dan menenang­kanya.

Sepulangnya dari gedung pertemuan, Habib terlihat oleh seseorang yang berutang padanya, orang itu pun hendak melarikan diri. “Jangan lari!,” kata Habib padanya, “Mulai sekarang, akulah yang harus melarikan diri darimu.” Habib pun berlari. Anak-anak masih saja bermain di jalan. Ketika mereka melihat Habib, mereka kembali berteriak, “Lihat, itu Habib sang petobat. Jangan dekat-dekat, agar debu kita tidak menempel di tubuhnya, karena kita adalah para pendosa.”

“Ya Allah, ya Tuhan,” tangis Habib. “Karena satu hari ini, di mana aku bertobat, Engkau telah menabuh genderang di hati manusia untukku, dan membuat namaku masyhur karena kebajikan.”

Lalu ia pun mengeluarkan pernyataan, “Siapa saja yang menginginkan apa pun dari Habib, datanglah kepadaku dan ambil apa pun yang kalian mau!”, Orang-orang pun berkumpul di rumahnya dan ia memberikan segala yang dimilikinya hingga ia tak punya uang sepeser pun. Kemudian, seorang pria datang meminta sesuatu, karena tak memiliki apa-apa lagi, Habib pun memberi pria itu kain istrinya. Kepada seseorang yang datang kemudian, Habib memberikan bajunya, sendiri, ia pun jadi telanjang dada. Habib lalu menyepi di tepi Sungai Eufrat dan di sana ia menyerahkan diri sepenuhnya untuk ibadah.

Setiap hari, siang dan malam, ia belajar di bawah bimbingan Hasan, tapi ia tidak bisa mempelajari Al-Qur’an, karenanya, ia juluki Barbar. Waktu pun berlalu, dan Habib benar-benar menjadi orang yang sangat, miskin. Istrinya memintanya untuk memberi nafkah sehari-hari, Habib pun keluar rumah menuju tepi Sungai Eufrat untuk beribadah. Ketika malam tiba, ia kembali ke rumah. “Suamiku, di mana engkau bekerja, kok tidak membawa pulang apa-apa?” tanya istrinya.

“Aku bekerja pada seseorang yang sangat dermawan,” jawab Habib, “Saking dermawannya ia, aku sampai malu untuk meminta kepadanya. Bila telah tiba waktu yang tepat, ia akan memberi. Setiap sepuluh hari aku membayar upah", kata bosku. Begitulah, setiap hari Habib pergi ke tepi sungai dan beribadah di sana, hingga sepuluh hari. Pada hari kesepuluh, di waktu dzuhur, di benaknya berkata, “Apa yang aku bawa pulang malam ini, dan apa yang aku katakan pada isteriku?” Habib merenungkan hal ini dalam-dalam.

Seketika, Allah Yang Maha Kuasa mengutus beberapa orang kuli ke rumah Habib dengan membawa tepung, daging domba, minyak, madu, rempah rempah, dan bumbu dapur. Kuli-kuli itu menaruh barang berat tersebut di dapur rumah Habib. Seorang anak muda yang tampan menyertai mereka dengan membawa uang sebanyak tiga ratus dirham. Anak muda itu mengetuk pintu rumah Habib. “Apa keperluan Anda?” tanya istri Habib sambil membuka pintu. “Tuanku telah mengirim semua ini” jawab anak muda itu. “Bilang pada Habib, ‘Bila kau tingkatkan hasilmu, niscaya kami akan tingkatkan upahmu.” Setelah mengatakan hal itu, ia pun pergi.

Di kegelapan malam, Habib melangkah pulang, malu dan sedih. Ketika ia semakin mendekati rumahnya, ia mencium aroma roti dan masakan. Istrinya berlari menyambutnya, membersihkan wajahnya, dan berlaku sangat lembut padanya, “Suamiku,” kata istrinya, “tuanmu itu sangat haik, dermawan, serta penuh cinta dan kebaikan, lihatlah apa yang telah ia kirimkan melalui seorang anak muda yang tampan! Dan anak muda itu berkata, ‘Jika Habib pulang, katakan padanya, ‘Bila kau tingkatkan hasilmu, niscaya kami akan tingkatkan upahmu”.

Habib merasa takjub. “Menakjubkan!” katanya. “Aku baru bekerja, selama sepuluh hari, dan ia telah memberikan aku segala kebaikan ini. Jika aku bekerja lebih keras, siapa yang tahu apa yang akan diperbuat­nya?” Habib pun memalingkan wajahnya sepenuhnya dari duniawi dan mengabdikan diri untuk beribadah kepada-Nya.


Kamis, 02 Juni 2022

Kisah Hasan Al-Bashri

 Telah datang berita gembira kepada istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ummu Salamah, bahwa budaknya yang bernama Khairah telah melahirkan seorang bayi laki-laki.

Ummul Mukminin hanyut dalam kegembiraan dan wajahnya tampak ceria dan berseri-seri. Dia mengutus seseorang untuk membawa ibu dan bayinya ke rumah selama masa-masa pemulihan pasca melahirkan. Khairah adalah budak yang paling beliau sayangi dan beliau telah rindu menantikan kelahiran bayi pertama dari budaknya itu.

Tak lama setelah itu Khairah pun datang dengan bayi di gendongannya. Ketika Ummu Salamah memandangnya, beliau langsung menyukai bayi itu karena wajahnya yang tampan dan cerah, menarik hati siapapun yang memandangnya.

Ummu Salamah bertanya kepada budaknya: “Sudahkah engkau memberikan nama untuknya wahai Khairah?” Khairah menjawab: “Belum, aku ingin Anda-lah yang memilihkan nama untuknya sesuka Anda.”

Ummu Salamah berkata, “Kita akan memberi nama yang diberkahi Allah Subhanahu wa Ta’ala yaitu Hasan.” Lalu beliau mengangkat tangannya untuk mendoakan kebaikan bagi sang bayi.

Kebahagiaan atas kelahiran Hasan itu tidak hanya dirasakan oleh keluarga Ummul Mukminin Ummu Salamah saja. Namun juga dirasakan oleh seisi rumah di Madinah, yaitu di rumah sahabat utama yang juga penulis wahyu Rasulullah, Zaid bin Tsabit. Sebab ayah si bayi, yakni Yasaar, adalah budak Zaid bin Tsabit yang paling disayangi dan diutamakan di antara budak yang lain.

Hasan bin Yassar (yang pada akhirnya lebih terkenal dengan sebutan Hasan al-Bashri) tumbuh di salah satu rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, besar di pangkuan salah satu istri beliau, yaitu Hindun binti Suhail yang lebih sering dipanggil dengan Ummu Salamah.

Adapun Ummu Salamah –kalau pembaca belum tahu- adalah seorang wanita Arab yang termasuk paling sempurna akalnya, banyak keutamaannya, dan teguh pendiriannya. Beliau juga termasuk istri nabi yang paling luas pengetahuannya dan paling banyak meriwayatkan hadis dari Rasulullah. Beliau meriwayatkan sebanyak 387 hadis. Beliau juga termasuk dari sedikit bilangan wanita di masa jahiliyah yang mampu baca-tulis.

Hubungan bayi yang beruntung itu dengan Ummu Salamah tidak hanya sebatas itu. Lebih jauh lagi, karena seringkali ibunda beliau, Khairah, harus keluar dari rumah untuk mengurus kebutuhan Ummul Mukminin sehingga harus meninggalkan bayinya. Bila sang bayi menangis karena lapar, maka Ummul Mukminin meletakkan bayi itu di pangkuannya, lalu disusui supaya diam. Karena rasa cintanya terhadap bayi itu, Ummul Mukminin bisa mengeluarkan air susu yang kemudian diminum oleh si bayi hingga merasakan kenyang dan diam dari tangisnya. Dengan demikian, kedudukan Ummu Salamah bagi Hasan al-Bashri adalah sebagai ibu dalam dua sisi. Pertama karena Hasan al-Bashri adalah seorang dari mukminin sedang Ummu Salamah adalah Ummul Mukminin. Kedua Ummu Salamah adalah ibu susuan bagi beliau.

Anak ini meraih kesempatan emas untuk bergaul dengan istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebab rumah-rumah mereka berdekatan sehingga ia bisa bermain dari satu rumah ke rumah yang lain. Sudah barang tentu akhlak beliau terwarnai oleh para penghuni rumah itu dan mendapatkan bimbingan dari mereka.

Seperti yang diceritakan oleh Hasan al-Bashri sendiri, dia mengisi rumah Ummul Mukminin dengan ketangkasannya yang menyenangkan. Sering dia naik ke atap rumah lalu berpindah-pindah dengan lincahnya.

Hasan dibesarkan dalam suasana yang diterangi oleh cahaya nubuwah dan meneguk sumber air jernih (ilmu) yang tersedia di rumah-rumah ummahatul mukminin. Beliau juga berguru kepada sahabat-sahabat utama di Masjid Nabawi. Beliau meriwayatkan dari Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abu Musa al-Asy’ari, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Anas bin Malik, Jabir bin Abdillah dan lain-lain.

Meski demikian, kekaguman yang paling menonjol jatuh kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Dia mengagumi keteguhan agamanya, ketekunan ibadahnya, kezuhudannya terhadap kesenangan dunia, kefasihan lidahnya, hikmah-hikmahnya yang berkesan di hatinya, kemantapan tutur katanya dan nasihat-nasihatnya yang menggetarkan hati. Sehingga beliau berusaha berakhlak dengannya dalam hal takwa dan ibadah serta mengikuti jejaknya dalam memberikan keterangan dan kefasihan bahasanya.

Menginjak usia 14 tahun, ketika memasuki usia remaja, beliau berpindah bersama kedua orang tuanya ke Bashrah dan menetap di sana. Dari sinilah muncul julukan al-Bashri, yang dinisbahkan pada kota Bashrah. Lalu keutamaan beliau mulai dikenal orang-orang di Bashrah.

Di saat Hasan al-Bashri menjadi imam, kota Bashrah merupakan benteng Islam yang terbesar dalam bidang ilmu pengetahuan. Masjidnya yang agung penuh dengan para sahabat dan tabi’in yang hijrah ke sana dan halaqah-halaqah keilmuan dengan beraneka ragam dan coraknya memakmurkan masjid-masjid dan suraunya.

Hasan al-Bashri tinggal di masjid itu dan menekuni halaqah Abdullah bin Abbas, Habru umati Muhammad (Ustadnya umat Muhammad). Dia mengambil pelajaran tafsir, hadis, qiraah, fiqh, adab, bahasa dan sebagainya. Hingga beliau menjadi seorang ulama besar dan fuqaha yang terpercaya.

Maka, umat banyak menggali ilmunya, mendantangi majelisnya serta mendengarkan ceramahnya yang mampu melunakkan jiwa-jiwa yang keras dan mencucurkan air mata orang-orang yang terlanjur berbuat dosa. Banyak orang terpikat dengan hikmahnya yang mempesona.

Nama Hasan al-Bashri telah menyebar di seluruh daerah dan dikenal di mana-mana.

Para gubernur dan khalifah menanyakan dan mengikuti beritanya.

Khalid bin Shafwan bercerita. “Aku bertemu dengan Maslamah bin Abdul Malik di daerah Hirah, beliau berkata, ‘Wahai Khalid, ceritakan kepadaku tentang Hasan al-Bashri, aku rasa engkau lebih mengenalnya dari yang lain.”

Aku berkata, “Semoga Allah menjaga Anda. Saya sebaik-baik orang yang akan memberikan keterangan tentang Hasan al-Bashri wahai Amir, karena saya adalah tetangga sekaligus muridnya yang setia. Saya lebih mengenal beliau daripada orang Bashrah lainnya’.”

Beliau berkata, “Ceritakan apa yang Anda ketahui tentangnya.” Saya berkata, ‘Beliau adalah orang yang hatinya sama dengan lahiriyahnya, perkataannya serasi dengan perbuatannya. Jika menyuruh perkara yang ma’ruf, maka beliau pula yang paling sanggup melakukannya. Jika melarang yang mungkar, beliau pula yang paling mampu meninggalkannya. Saya mendapatinya sebagai orang yang tidak memerlukan pemberian; dan zuhud terhadap apa yang ada di tangan orang lain. Sebaliknya saya dapati betapa orang-orang memerlukan dan menginginkan apa yang dimilikinya.”

Maslamah berkata, “Cukup wahai Khalid, cukup. Bagaimana kaum itu bisa sesat, bila ada orang semisal dia di tengah-tengah mereka?”

Ketika Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi berkuasa di Irak, bertindak sewenang-wenang dan kejam di wilayahnya, Hasan al-Bashri adalah termasuk dalam bilangan sedikit orang yang berani menentang dan mengecam keras akan kezaliman penguasa itu secara terang-terangan.

Suatu ketika, Hajjaj membangun istana yang megah untuk dirinya di kota Wasit. Ketika pembangunan selesai, diundangnya orang-orang untuk melihat dan mendoakannya. Hasan al-Bashri tak mau menyia-nyiakan kesempatan yang baik di mana banyak orang sedang berkumpul. Dia tampil memberikan ceramah, mengingatkan mereka agar bersikap zuhud di dunia dan menganjurkan manusia untuk mengejar apa yang ada di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Begitulah, ketika Hasan al-Bashri tiba di tempat itu dan melihat begitu banyak orang-orang mengelilingi istana yang megah dan indah dengan halamannya yang luas, beliau berdiri untuk berkhutbah. Di antara yang beliau sampaikan adalah: “Kita mengetahui apa yang dibangun oleh manusia yang paling kejam dan kita dapati Fir’aun yang membangun istana yang lebih besar dan lebih megah daripada bangunan ini. Namun kemudian Allah membinasakan Fir’aun beserta apa yang dibangunnya. Andai saja Hajjaj bahwa penghuni langit telah membencinya dan penduduk bumi telah memperdayakannya…”

Beliau terus mengkritik dan mengecam hingga beberapa orang mengkhawatirkan keselamatannya dan memintanya berhenti: “Cukup Wahai Abu Sa’id, cukup.”

Namun Hasan al-Bashri berkata, “Wahai saudaraku, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengambil sumpah dari ulama agar menyampaikan kebenaran kepada manusia dan tak boleh menyembunyikannya.”

Keesokan harinya Hajjaj menghadiri pertemuan bersama para pejabatnya dengan memendam amarah dan berkata keras: “Celakalah kalian! Seorang dari budak-budak Basrah itu memaki-maki kita dengan seenaknya dan tak seorang pun dari kalian berani mencegah dan menjawabnya. Demi Allah, akan kuminumkan darahnya kepada kalian wahai para pengecut!”

Hajjaj memerintahkan pengawalnya untuk menyiapkan pedang beserta algojonya dan menyuruh polisi untuk menangkap Hasan al-Basri.

Dibawalah Hasan al-Basri, semua mata mengarah kepadanya dan hati mulai berdebar menunggu nasibnya. Begitu Hasan al-Basri melihat algojo dan pedangnya yang terhunus dekat tempat hukuman mati, beliau menggerakkan bibirnya membaca sesuatu. Lalu berjalan mendekati Hajjaj dengan ketabahan seorang mukmin, kewibawaan seorang muslim, dan kehormatan seorang da’i di jalan Allah.

Demi melihat ketegaran yang demikian, mental Hajjaj menjadi ciut. Terpengaruh oleh wibawa Hasan al-Basri, dia berkata ramah: “Silahkan duduk di sini wahai Abu  Sa’id, silahkan..”

Seluruh yang hadir menjadi bengong dan terheran-heran melihat perilaku amirnya yang mempersilahkan Hasan al-Basri duduk di kursinya. Sementara itu, dengan tenang dan penuh waibawa Hasan al-Basri duduk di tempat yang disediakan. Hajjaj menoleh kepadanya lalu menanyakan berbagai masalah agama, dan dijawab Hasan al-Basri dengan jawaban-jawaban yang menarik dan mencerminkan pengetahuannya yang luas.

Merasa cukup dengan pertanyaan yang diajukan, Hajjaj berkata, “Wahai Abu Sa’id, Anda benar-benar tokoh ulama yang hebat.” Dia semprotkan minyak ke jenggot Hasan al-Basri lalu diantarkan sampai di depan pintu.

Sesampainya di luar istana, pengawal yang mengikuti Hasan al-Basri berkata, “Wahai Abu Sa’id sesungguhnya Hajjaj memanggil Anda untuk suatu urusan yang lain. Ketika Anda masuk dan melihat algojo dengan pedangnya yang terhunus, saya lihat Anda membaca sesuatu, apa sebenarnya yang Anda lalukan ketika itu?”

Beliau berkata, (Aku berdoa) “Wahai Yang Maha Melindungi dan tempatku bersandar dalam kesulitan, jadikanlah amarahnya menjadi dingin dan menjadi keselamatan bagiku sebagaimana Engkau jadikan api menjadi dingin dan keselamatan bagi Ibrahim.”

Kejadian serupa sering dialami Hasan al-Basri berhubungan dengan para wali negeri dan amir, di mana beliau selalu lolos dari setiap kesulitan tanpa menjatuhkan wibawanya di mata para penguasa tersebut dengan lindungan dan pemeliharaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Setelah wafatnya khalifah yang zuhud Umar bin Abdul Aziz, kekuasaan beralih ke tangan Yazid bin Abdul Malik. Khalifah baru ini mengangkat Umar bin Hubairah al-Faraqi sebagai gubernur Irak sampai Khurasan. Yazid ditengarai telah berjalan tidak seperti jalannya kaum salaf yang agung. Dia senantiasa mengirim surat kepada walinya, Umar bin Hubairah agar melaksanakan perintah-perintah yang ada kalanya melenceng dari kebenaran.

Untuk memecahkan problem itu, Umar bin Hubairah memanggil para ulama di antaranya asy-Sya’bi dan Hasan al-Basri. Dia berkata: “Sesungguhnya Amirul Mukminin, Yazid bin Abdul Malik telah diangkat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai khalifah atas hamba-hamba-Nya. Sehingga wajib ditaati dan aku diangkat sebagai walinya di negeri Irak sampai kupandang tidak adil. Dalam keadaan yang demikian, bisakah kalian memberikan jalan keluar untukku, apakah aku harus menaati perintah-perintahnya yang bertentangan dengan agama?”

Asy-Sya’bi menjawab dengan jawaban yang lunak dan sesuai dengan jalan pikiran pemimpinnya itu, sedangkan Hasan al-Basri tidak berkomentar sehingga Umar menoleh kepadanya dan bertanya, “Wahai Abu Sa’id, bagaimana pendapatmu?”

Beliau berkata, “Wahai Ibnu Hubairah, takutlah kepada Allah atas Yazid dan jangan takut kepada Yazid karena Allah. Sebab ketahuilah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala bisa menyelamatkanmu dari Yazid, sedangkan Yazid tak mampu menyelamatkanmu dari murka Allah. Wahai Ibnu Hubairah, aku khawatir akan datang kepadamu malaikat maut yang keras dan tak pernah menentang perintah Rabb-nya lalu memindahkanmu dari istana yang luas ini menuju liang kubur yang sempit. Di situ engkau tidak akan bertemu dengan Yazid. Yang kau jumpai hanyalah amalmu yang tidak sesuai dengan perintah Rabb-mu dan Rabb Yazid.”

“Wahai Ibnu Hubairah, bila engkau bersandar kepada Allah dan taat kepada-Nya, maka Dia akan menahan segala kejahatan Yazid bin Abdul Malik atasmu di dunia dan akhirat. Namun jika engkau lebih suka menyertai Yazid dalam bermaksiat kepada Allah, niscaya Dia akan membiarkanmu dalam genggaman Yazid. Dan sadarilah wahai Ibnu Hubairah, tidak ada ketaatan bagi makhluk, siapapun dia, bila untuk bermaksiat kepada Allah.”

Umar bin Hubairah menangis hingga basah jenggotnya karena terkesan mendengarnya. Dia berpaling dari asy-Sya’bi kepada Hasan al-Basri, Umar semakin bertambah hormat dan memuliakannya. Setelah kedua ulama itu keluar dan menuju ke masjid, orang-orang pun datang berkerumun ingin mengetahui berita pertemuan mereka dengan amir Irak tersebut.

Asy-Sya’bi menemui mereka dan berkata; “Wahai kaum barangsiapa mampu mengutamakan Allah atas makhluk-Nya dalam segala keadaan dan masalah, maka lakukanlah. Demi yang jiwaku ada di tangan-Nya, semua yang dikatakan Hasan al-Basri kepada Umar bin Hubairah juga aku ketahui. Tapi yang kusampaikan kepadanya adalah untuk wajahnya, sedangkan Hasan al-Basri menyampaikan kata-katanya demi mengharap wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka aku disingkirkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dari Ibnu Hubairah, sedangkan Hasan al-Basri didekati dan dicintai…”

Allah memberikan karunia umur kepada Hasan al-Basri hingga berusia lebih dari 80 tahun dan telah memenuhi dunia ini dengan ilmu, hikmah dan fiqih. Warisan yang diunggulkannya bagi generasi kini di antaranya adalah kehalusan dan nasihat-nasihatnya yang mampu menyegarkan jiwa  dan mampu menyentuh hati, menjadi petunjuk bagi mereka yang lalai akan hakikat kehidupan dunia serta ihwal manusia dalam menyikapi dunia.

Beliau pernah ditanya oleh seseorang tentang dunia dan keadaannya. Beliau berkata, “Anda bertanya tentang dunia dan akhirat. Sesungguhnya perumpamaan dunia dan akhirat adalah seperti timur dan barat, bila satu mendekat, maka yang lain akan menjauh.”

Dan Anda memintaku supaya menggambarkan tentang keadaan dunia ini. Maka aku katakan bahwa dunia diawali dengan kesulitan dan diakhiri dengan kebinasaan, yang halal akan dihisab dan yang haram akan berujung siksa. Yang kaya akan menghadapi ujian dan fitnah, sedang yang miskin selalu dalam kesusahan.”

Adapun jawaban terhadap pertanyaan orang lain tentang keadaannya dan keadaan orang lain dalam menyikapi dunia beliau berkata, “Duhai celaka, apa yang telah kita perbuat atas diri kita? Kita telah menelantarkan agama kita dan menggemukkan dunia kita, kita rusak akhlak kita dan kita perbaharui rumah, ranjang serta pakaian kita. Bertumpu pada tangan kiri, lalu memakan harta yang bukan haknya.

Makanannya hasil menipu, amalnya karena terpaksa, ingin yang manis setelah yang asam, ingin yang panas setelah yang dingin, ingin yang basah setelah yang kering, hingga manakala telah penuh perutnya ia berkata, “Wahai anakku, ambill obat pencerna.” Hai orang yang dungu, sesungguhnya yang kau cerna itu adalah agamamu.

Mana tetanggamu yang lapar?

Mana yatim-yatim kaummu yang lapar?

Mana orang miskin yang menantikan uluranmu?

Mana nasihat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan rasul-Nya?

Kalau saja engkau sadari hisabmu. Tiap kali terbenam matahari, berkuranglah satu hari usiamu dan lenyaplah sebagian yang ada padamu.”

Kamis malam di bulan Rajab 110 H, Hasan al-Basri pergi memenuhi panggilan Rabb-nya. Pagi harinya menjadi pagi duka cita bagi kota Bashrah.

Jenazahnya dimandikan, dikafani dan dishalatkan setelah shalat Jumat di masjid Jami Basrah, masjid tempat di mana beliau menghabiskan banyak waktu hidupnya, belajar dan mengajar serta menyeru ke jalan Allah.

Orang-orang mengiringkan jenazahnya dan hari itu tak ada shalat ashar di Masjid Jami tersebut karena tak ada yang menegakkannya. Dan shalat jamaah ashar tidak pernah absen sejak dibangunnya masjid itu kecuali di hari itu. Hari di mana Hasan al-Basri berpulang ke haribaan Rabb-nya.



istihsan dan kedudukannya sebagai dalil

  BAB I PENDAHULUAN   Setelah abad ketiga/kesembilan, para ahli ushul fiqh mazhab Hanafi mengambil langkah-langkah yang memutus citra ...