Minggu, 26 Juni 2022

QOULAN MAYSURA

 QOULAN MAYSURA

Hampir dalam keseharian kita pasti mendengar atau bahkan membaca ungkapan yang tak sepatutnya diucapkan oleh manusia yang mempunyai kedudukan mulia disisi rabb-Nya, maka tak elok kalau fikiran, hati dan ucapan kita dipenuhi oleh umpatan penuh kebencian, bahkan dalam surat al-Humazah Allah sudah mengingatkan kita, ‘Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela,’ dipastikan akan dimasukkan ke dalam neraka, ‘Sekali-kali tidak! pasti dia akan dilemparkan ke dalam neraka  hutomah.’ Berhentilah mengumpat apalagi mencela, mulailah berkata dengan mudah penuh dengan kelembutan, Allah berfirman :

“Dan jika engkau berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang engkau harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang lemah lembut.”

(QS. Al-Isra’ 17: Ayat 28).

Secara etimologis, kata maysuran berasal dari kata yasara yang artinya mudah atau gampang (Al-Munawir). Ketika kata maysuran digabungkan dengan kata qaulan menjadi qaulan maysuran yang artinya berkata dengan mudah atau gampang. Berkata dengan mudah maksudnya adalah kata-kata yang digunakan mudah dicerna, dimengerti, dan dipahami oleh komunikan, sehingga bahasa yang disampaikan akan mudah dicerna oleh masyarakat umum, ini menjadi tugas bersama untuk menyampaikan pesan moral dengan jelas dan gamblang.

Ayat tersebut turun terkait dengan sebuah peristiwa ketika orang-orang dari Muzainah meminta kepada Rasulullah SAW supaya diberi kendaraan untuk jihad.

Rasulullah SAW mengatakan bahwa beliau tidak mendapatkan lagi kendaraan untuk mereka. Hal itu membuat orang-orang Muzainah tersebut berpaling dengan air mata berlinang karena sedih dan mengira bahwa Rasulullah SAW marah kepada mereka. Maka turunlah Q.S. al-Isra’ : 28 yang menjadi petunjuk bagi Rasulullah SAW bagaimana seharusnya menolak sebuah permintaan.

Al-Sabuni dalam Safwah al-Tafasir menjelaskan qaulan maisura  dengan perkataan yang halus, mudah dicerna, disertai dengan janji yang “indah” untuk mereka. Sedangkan Ibnu Kasir dalam kitabnya menjelaskan bahwa qaulan maisura adalah ucapan yang pantas, serta janji yang menyenangkan yang memberi harapan positif bagi pihak yang diberi janji.

Salah satu prinsip komunikasi dalam Islam adalah setiap berkomunikasi harus bertujuan mendekatkan manusia dengan Tuhannya dan hamba-hambanya yang lain. Islam mengharamkan setiap komunikasi yang membuat manusia terpisah dari Tuhannya dan hamba-hambanya. Seorang komunikator yang baik adalah komunikator yang mampu menampilkan dirinya sehingga disukai dan disenangi orang lain. Untuk bisa disenangi orang lain, ia harus memiliki sikap simpati dan empati. Simapti dapat diartikan dengan menempatkan diri kita secara imajinatif dalam posisi orang lain. Komunikasikan ide gagasan dengan qaulan maysura dalam ranah apapun menjadi prasyarat agar komunikasi kita merangsek ke dalam relung hati setiap audiens, perkataan yang tidak bersayap yang cenderung bikin audiens ambigu.

Namun dalam komunikasi, tidak hanya sikap simpati dan empati yang dianggap penting karena sikap tersebut relatif abstrak dan tersembunyi, tetapi juga harus dibarengi dengan pesan-pesan komunikasi yang disampaikan secara bijaksana dan menyenangkan, bukankah kita diajarkan membuat orang tersenyum bukan sebaliknya membuat orang galau, gelisah bahkan cenderung mengarah pada ujar an kebencian yang berujung anarkis

Kesimpulannya, qaulan maysura bermakna ucapan yang mudah, yakni mudah dicerna, mudah dimengerti, dan mudah dipahami oleh komunikan. Makna lainnya adalah kata-kata yang menyenangkan atau berisi hal-hal yang menggembirakan. Jadikan ucapan kita harus mengandung nilai keridhaan bukan nilai kemurkaan, sebagaimana Nabi Muhammad SAW bersabda:

Artinya: “Sesungguhnya ada seorang hamba benar-benar berbicara dengan satu kalimat yang termasuk keridhaan Allah, dia tidak menganggapnya penting; dengan sebab satu kalimat itu, Allah menaikkan beberapa derajat. Dan sesungguhnya ada seorang hamba benar-benar berbicara dengan satu kalimat yang termasuk kemurkaan Allah, dia tidak menganggapnya penting; dengan sebab satu kalimat itu, dia terjungkal di dalam neraka Jahannam.”

( Hadits Bukhari )

Setidaknya dengan kita selalu merawat lisan kita, tentu keselamatan dan kedamaian akan menghampiri kita, kita pun akan dijauhkan dari bara siksa api neraka, jika kita mampu mengolah kata dengan baik dan bijaksana. []

 

Sabtu, 25 Juni 2022

kisah syaikh muhammad an-najjari

 

 

SYAIK MUHAMMAD AN-NAJJARI

Salah satu ulama yang sangat masyhur di kalangan mazhab Syafi’iyah adalah Syekh Muhammad bin Najjar ad-Dimyathi. Ia tidak hanya figur ulama yang sangat alim tapi juga salah satu ulama yang memiliki jasa besar dalam perkembangan Islam, khususnya ilmu Al-Qur’an dan fiqih. Ia juga memiliki suara yang merdu nan indah, sehingga bacaan Al-Qur’annya mampu membuat orang lain merasa tersentuh dengan kandungan dan isinya.

 

Perjalanan Intelektual Syekh Muhammad an-Najjar

Nama lengkapnya adalah Aminuddin Muhammad bin Ahmad bin Isa bin an-Najjar ad-Dimyathi. Ia dilahirkan di desa Qahirah, salah satu desa yang terletak di kota Mesir. Hanya saja, pada masa pertumbuhannya, ibunya pindah dari desa Qahirah menuju desa Dimyath, salah satu kota yang terletak di Laut Tengah, tepatnya di muara Delta sungai Nil.

 

Menurut salah satu riwayat, Muhammab bin Najjar dilahirkan pada tanggal 14 Dzulhijjah, tahun 845 H. Ada juga yang mengatakan, ia dilahirkan pada bulan Jumadal Ula tahun 762 H. Sedangkan mengenai wafatnya, para ulama pun berbeda pendapat. Ada yang mengatakan beliau wafat pada malam Sabtu, 27 bulan Dzulqa’dah 928 H, ada juga yang mengatakan 27 Dzulqa’dah 929 H. (Najmuddin al-Ghazzi, al-Kawakibus Sa’irah bi A’yanil Miatil ‘Asyirah, [Lebanon: Darul Kutubil ‘Ilmiah, 1997, juz I, h. 32).

 

Pada mulanya, Muhammad an-Najjar mendapatkan bimbingan langsung dari ayahnya. Ketekunan dan rasa haus akan ilmu pengetahuan sangat tampak darinya. Semua ilmu yang dimiliki ayahnya ia lahap secara perlahan. Semangatnya sangat menggelora. Ilmu pertama yang ia pelajari dan sangat ditekuni adalah Al-Qur’an.

 

Selain belajar kepada orang tuanya, ia juga belajar kepada guru-guru Al-Qur’an yang ada pada desa Dimyath saat itu. Di antara gurunya adalah (1) Syekh Ibnu Asad, (2) Syekh Abdud Daim, (3) Syekh Nurul Imam, dan beberapa guru Al-Qur’an lainnya. Dari guru-guru tersebut, An-Najjar memiliki perkembangan yang sangat pesat dalam masalah Al-Qur’an. Bahkan, pada umur yang masih relatif muda, ia sudah mampu menghafalkan Al-Qur’an dan beberapa matan kitab lainnya.

 

Setelah Muhammad an-Najjar belajar Al-Qur’an, tiba saatnya untuk mengembara ilmu-ilmu yang lain kepada para ulama-ulama tersohor di Mesir saat itu. Ia belajar ilmu hadits kepada Syekh Syamsu bin ‘Imad, Syekh Syihab al-Hijazi, Syekh Jalal bin al-Mulaqqin. Dalam ilmu fiqih, ia belajar kepada Syekh Zain bin Abdul Lathif, Syekh al-Manawi, dan Imam al-‘Ubbadi dan beberapa guru lainnya.

 

Di bawah bimbingan ulama-ulama tersohor ini, ia tumbuh sebagai sosok yang sangat semangat. Tidak ada waktu yang ia sia-siakan, semuanya digunakan untuk mempelajari ilmu dan memperluas wawasannya. (Syamsuddin As-Sakhawi, ad-Dlauul Lami’ li Ahlil Qurunit Tasi’, [Maktabah al-Hayah, cetakan pertama: 2000], juz III: h. 373).

 

Kamis, 23 Juni 2022

KISAH SYAIKH ABU ZAKARIA


SYAIKH ABU ZAKARIA 

`Nama lengkapnya adalah Zainuddin Abu Yahya Zakaria bin Muhammad bin Ahmad bin Zakaria al-Anshari al-Khazraji as-Sunaiki al-Qahiri al-Azhari asy-Syafi’i, atau yang kerap disapa dengan panggilan Syekh Zakaria al-Anshari.

Tak ada kepastian tahun kelahirannya, namun Imam As-Suyuthi, ulama yang hidup semasa dengannya dan juga teman seperjuangannya, memprediksi tahun kelahiran Syekh Zakaria al-Anshari adalah 824 H, di Sunaikah, desa kecil yang terletak antara kota Bilbis dan al-Abbasiyah, timur kota Mesir.

Sejak kecil Zakaria telah ditinggal wafat ayahnya. Ia merupakan putra satu-satunya pasangan suami-istri yang berpisah oleh kematian. Hanya berdua dengan ibunya, Zakaria kecil menjalani kehidupan yang cukup berat, ia harus rela berpisah dengan ayah semata wayangnya.

Syekh Zakaria: Semangat dalam Menuntut Ilmu Namun, dalam keadaan seperti itu tidak menjadikan Zakaria kecil putus asa untuk mendalami ilmu. Bahkan, semasa tinggal di Desa Sunaikah, Zakaria kecil selalu bersemangat untuk bisa membaca Al-Qur’an, dan ia mulai mempelajari kitab ‘Umdah al-Ahkam dan Mukhtashar at-Tabrizi. Tidak hanya sekedar membaca, Zakaria kecil berusaha mamahami dan menghafalnya. Syekh al-Ghuzzi menceritakan dari Syaikh Shalih as-Sulami bahwa suatu ketika Syaikh Shalih berkunjung ke Desa Sunaikah, kampung halaman Syekh Zakaria, dan mendapati seorang perempuan yang meminta pekerjaan kepadanya, hal itu demi memenuhi kebutuhan keluarganya dan ingin mewujudkan cita-cita anaknya yang mulia. Namun ternyata, wanita itu tak lain adalah ibunda Syekh Zakaria al-Anshari. Setelah Syekh Shalih mengetahui bahwa ia ibunda dari Zakaria, akhirnya ia mengatakan pada ibunda yang terlihat sudah sangat tua itu, “Jika Ibu setuju, akan saya bawa Zakaria ke Al-Azhar untuk membantu pekerjaan dan sekaligus belajar di sana. Saya akan menanggung kehidupannya.”


Rabu, 22 Juni 2022

SYAIKH PIR SADDRUDDIN

 SYAIKH PIR SADDRUDDIN

Pir Sadar al-Din (Sadardin) atau Pir Sadruddin adalah seorang da'i Nizari Ismaili abad keempat belas dan dianggap sebagai pendiri komunitas Khoja Nizari Ismaili, juga disebut Satpanth.

 

Dia adalah putra dan penerus Pir Shihab al-Din, dan merupakan salah satu penulis Ismaili paling terkemuka di abad ke-14. Dia sezaman dengan Nizari Ismaili Imam Islam Shah.[1]

 

Lahir di Persia, Sadardin kemudian melakukan perjalanan ke Asia Selatan, menetap di daerah Sindh (di tempat yang sekarang disebut Pakistan selatan), mendirikan komunitas Khoja dan mengembangkan aksara Khojki; dia juga menulis ginan. Pir Sadardin menyusun Do'a sebelumnya, yang dibacakan oleh Ismailiyah selama beberapa abad, sangat panjang dan membutuhkan waktu hampir setengah jam untuk dibacakan. "Gat Paj ji Dua" miliknya juga merangkum kisah Penciptaan.[2]

 

Ginan Pir Sadar al-Din adalah yang terakhir dari ginan yang telah dipelajari hari ini untuk menyebutkan Alamut atau Daylam, menunjukkan bahwa sampai saat ini, kehadiran Ismaili - yang umumnya dianggap telah dilenyapkan setelah jatuhnya Alamut ke Mongol pada tahun 1256 – tetap tinggal di wilayah Alamut dan Daylam sampai masa hidupnya abad ke-14.[1]

Selasa, 21 Juni 2022

syaikh izzuddin

Abu Muhammad Izz al-Din Abdul Aziz bin Abd al-Salam bin Abi al-Qasim bin Hassan al-Salami al-Shafi'i (Arab: أبو محمد عز الدين العزيز السلام القاسم بن السُّلَمي الشافعي‎; 577 AH - 660 AH / 1262 M), juga dikenal dengan gelarnya, Sultan al-'Ulama/ Sulthanul Ulama, Abu Muhammad al-Sulami, adalah seorang mujtahid terkenal, teolog Asy'ari, ahli hukum dan otoritas Syafi'i terkemuka di masanya. generasi.[1][5][6] Dia digambarkan oleh Al-Dhahabi sebagai seseorang yang mencapai peringkat ijtihad, dengan asketisme dan ketakwaan dan perintah keutamaan dan melarang apa yang munkar dan soliditas dalam agama.[7] Dia digambarkan oleh Ibn al-Imad al-Hanbali sebagai syekh Islam, imam ulama, satu-satunya zamannya, otoritas ulama, yang unggul dalam yurisprudensi, asal-usul dan bahasa Arab, dan mencapai peringkat ijtihad, dan menerima siswa yang bepergian kepadanya dari seluruh negeri.[8]

Al-Izz Bin Abdul Salam lahir di Damaskus pada tahun 577 H (1181 M), tempat ia dibesarkan. Ia mempelajari ilmu-ilmu Syariat dan bahasa Arab, dan ia berdakwah di Masjid Umayyah dan mengajar di sudut Al-Ghazali. Dia terkenal karena pengetahuannya sampai dia menjangkau siswa dari negara itu, yang menyebabkan penahanannya. Dia kemudian bermigrasi ke Mesir, di mana dia diangkat sebagai hakim, dan dia mengajar dan menasihati, dan ditunjuk untuk berkhotbah di Masjid Amr Ibn Al-As, dan menghasut orang untuk memerangi Mongol dan Tentara Salib, dan berpartisipasi dalam jihad sendiri. . Ia meninggal di Kairo pada tahun 660 H (1262 M).[6]

Kelahiran dan pendidikan[sunting | sunting sumber]

Ibn 'Abd al-Salam lahir di Damaskus pada tahun 577 H.[1] Ia menerima pendidikan di Damaskus oleh ulama seperti Ibn Asakir dan Jamal al-Din al-Harastani dalam hukum Suci, Sayf al-Din al-Amidi dalam ushul al-Fiqh dan teologi, dan Tasawwuf dengan Suhrawardi dan Abul Hasan al-Shadhili. [1]

Penjara[sunting | sunting sumber]

Di Damaskus, sebagai pemberi khotbah (khatib) dari masjid Umayyah, dia secara terbuka menentang apa yang dia anggap sebagai kebiasaan yang tidak disetujui yang diikuti oleh pemberi khotbah lainnya: dia menolak untuk memakai pakaian hitam, menolak untuk mengatakan khotbahnya dalam prosa berirama (saj) dan menolak untuk memuji para pangeran. Ketika penguasa As-Salih Ismail membuat konsesi kapitulasi kepada Theobald selama Perang Salib Baron, Ibn 'Abd al-Salam mengutuknya dari mimbar dan tidak menyebutkannya dalam doa pasca-khotbah. Dia akibatnya dipenjara dan setelah dibebaskan beremigrasi ke Mesir.

Mesir[sunting | sunting sumber]

Setelah meninggalkan Damaskus, Ibn 'Abd al-Salam menetap di Kairo di mana ia diangkat sebagai hakim kepala dan Imam shalat Jumat, memperoleh pengaruh publik sedemikian rupa sehingga ia dapat (dan memang) memerintahkan yang benar dan melarang yang salah dengan kekuatan hukum. .[2][9]

Ibn 'Abd al-Salam kemudian mengundurkan diri dari peradilan dan berkarir sebagai guru hukum Syafi'i di Salihiyya, sebuah perguruan tinggi yang didirikan di jantung kota Kairo oleh al-Malik al-Salih yang saat itu baru saja selesai dan yang adalah, di Mesir, pendirian pertama yang memberikan instruksi dalam empat ritus. Para penulis biografi menunjukkan bahwa ia adalah orang pertama yang mengajar tafsir Al-Qur'an di Mesir.[1]

Eksploitasi Ibn 'Abd al-Salam akhirnya membuatnya mendapatkan gelar Sultan al-'Ulema (Sultan para ulama). [2]

Nama dan Silsilah[sunting | sunting sumber]

Menurut konsensus para ulama dan konsensus sumber yang disetujui, Namanya adalah Abdul Aziz bin Abdul Salam bin Abi Al-Qasim bin Hassan bin Muhammad bin Mudhahb.[10][11][12]

Karya[sunting | sunting sumber]

Dia menghasilkan sejumlah karya brilian dalam fikih Syafi'i, tafsir fikih Al-Qur'an, dasar-dasar metodologis dalam Syari'at, pendapat hukum formal, pemerintahan dan tasawuf meskipun kontribusi utama dan abadi adalah karyanya pada prinsip-prinsip hukum Islam terjemahan. ara – terjemahan. Qawa'id al-ahkam fi masalih al-anam.[9] Beberapa karyanya yang lebih populer ada di:

Alquran

1. Tafsir al-Qur'an al-Azim,

2. Mukhtasar al-Nukat wa'l 'Uyun lil Imam al-Mawardi,

3. Al-Isyarah ila al-Ijaz,

4. Fawa'id fi Mushkil al-Qur'an

5. Amali

Hadits / Sirah

1. Mukhtasar Shahih Muslim,

2. Bidayat al-Sul fi Tafdhil al-Rasul; tersedia dalam bentuk terjemahannya sebagai The Beginning of The Quest of the High Esteem of the Messenger

3. Targhib Ahl al-Islam fi Sakni al-Sham,

aqidah

1. Al-Mulhat fi I'tiqad Ahl al-Haqq[4] atau dengan sebutan lain; al-Radd 'ala al-Mubtadi'ah wa'l Hashawiyah; disampaikan oleh putranya 'Abd al-Latif.

2. Al-Farq bayn al-Iman wa'l Islam atau Ma'na al-Iman wa'l Islam,

3. Al-Anwa' fi 'ilm al-Tawhid,

4. Bayan Ahwal al-Nas yawm al-Qiyamah,

Tasawuf / Raqa'iq

1. Shajarat al-'Arif wa'l Ahwal wasalih al-Aqwal wa'l A'mal,

2. Al-Fitan wa'l Balaya wa'l Mihan,

3. Mukhtasar Ra'ayah al-Muhasibi atau Maqasid al-Ri'ayah li Huquqillah,

Usool

1. Qawa'id al-Kubra atau dengan judul lengkapnya; Qawa'id al-Ahkam fi Masaalih al-Anam. Komentar populernya tersedia oleh Imam al-Qarafi yang merupakan salah satu muridnya.

2. Al-Qawa'id al-Sughra, atau al-Fawa'id fi Mukhtasar al-Qawa'id; merupakan ringkasan dari judul di atas.

3. Al-Imam fi Bayan Adillat al-Ahkam, atau ad-Dala'il al-Muta'aliqah bi'l Mala'ikah wa'l Nabiyin,

fiqh


Minggu, 19 Juni 2022

ABU ISHAQ IBRAHIM

 

ABU ISHAK IBRAHIM

Ibrahim adalah putra Abu Zakariya Yahya dan seorang selir bernama Ruwaida, dan adik tiri Muhammad I al-Mustansir. Dia digambarkan oleh penulis sejarah abad ke-14 Ibn al-Khātib sebagai orang yang tinggi rata-rata tetapi kelebihan berat badan, dengan kulit cokelat dan fitur yang menyenangkan.[3]: 78

Ketika Al-Mustansir berkuasa, Ibrahim ditempatkan di bawah pengawasan ketat tetapi pada 1253 ia melarikan diri ke kota Zaraïa (dekat Sétif) di mana ia berlindung dengan suku Thawawida nomaden. Di sini dia menyatakan dirinya sebagai penguasa dan memulai pemberontakan dan mulai bersiap untuk maju ke Gabes, tetapi beberapa sekutunya meninggalkannya dan dia harus mundur ke Tlemcen, dari sana dia melarikan diri ke Granada dan diterima oleh Muhammad I. Setelah kematian Al -Mustansir, ia kembali ke Ifriqiya dan menggulingkan Al-Wathiq pada tahun 1279.[3]: 41

 

Abu Ishaq Ibrahim I (Arab: إسحاق إبراهيم) adalah amir Hafsid Ifriqiya (1279-1283).[1][2]

Ibrahim berkuasa selama perjuangan yang pecah di bawah Yahya II al-Wathiq. Berbeda dengan dua pendahulunya, ia hanya menyandang gelar amir dan tidak mengklaim khilafah untuk dirinya sendiri. Ia digulingkan oleh pemberontakan Ibnu Abi Umara.

Setelah memperoleh kekuasaan, Ibrahim membebaskan kelima putranya, yang pernah dipenjara oleh al-Mustansir. Dia kemudian memenjarakan pendahulunya Yahya II al-Wathiq bersama dengan tiga putranya, yang segera dia bunuh. Ingin menekankan perannya sebagai penerus ayahnya daripada saudara laki-laki atau keponakannya, dia tidak mengadopsi gelar Khalifa tetapi menghidupkan kembali gaya Emir ayahnya yang lebih sederhana.[3]: 78–9

Selama pemerintahan Ibrahim negara Hafsid memelihara hubungan diplomatik dan perdagangan yang baik dengan negara-negara Italia, membayar upeti kepada Charles I dari Napoli serta republik Genoa dan Venesia. Dia juga memperkuat hubungan dengan anak sungai baratnya, Yaghmurasen Ibn Zyan dari Tlemcen, menikahi putrinya dengan putra dan pewaris Ibn Zyan.[3]: 83–4

Pada tahun 1282 gubernur Konstantin, Ibn al-Wazir menyatakan pemberontakan, setelah mendapatkan dukungan militer dari Peter III dari Aragon.[3]: 81  Namun pada saat pasukan Aragon mendarat di Collo, Ibn al-Wazir telah dikalahkan dan dibunuh oleh pasukan Ibrahim. putra, Ibn Faris, gubernur Bejaa.[4]

Ibrahim digulingkan oleh pemberontakan di selatan wilayahnya yang mungkin mendapat dukungan dari Aragon.[4] Ahmad bin Marzūq bin Abi Umara (dikenal sebagai Ibn Abi Umara) berasal dari Msila dan sebelumnya mencoba untuk menyamar sebagai Mahdi di antara orang Arab Maqil Maroko. Pada tahun 1282 ia berada di wilayah Tripoli, di mana seorang mantan punggawa Yahya II al-Wathiq mengaku mengakuinya sebagai Al-Fadl, putra mantan Khalifah yang sebenarnya telah dieksekusi bersama ayahnya oleh Ibrahim. Para anggota suku setempat mendukungnya, dan meskipun dia tidak dapat merebut Tripoli, Gabes membukakan gerbang untuknya. Dia mengambil Gafsa, lalu Kairouan dan Sfax, dan diproklamirkan sebagai Khalifah. Pasukan yang dikirim untuk melawannya di bawah pimpinan putra Ibrahim, Abu Zakariya, bubar tanpa pertempuran. Pada Januari 1283, ketika kepanikan melanda Tunis, Ibrahim melarikan diri. Penolakan perlindungan di Konstantin, ia mencapai Bejaa pada bulan Februari, di mana putranya Abu Faris mewajibkan dia untuk turun tahta, menyatakan dirinya Khalifah dengan nama Al-Mu'tamid.[3]: 85

Abu Faris memimpin pasukan melawan Ibn Abi Umara yang bertemu pasukannya pada bulan Juni 1283 di dekat Kalaat es Senam. Hasilnya adalah kekalahan total pasukan Hafsid. Abu Faris tewas dalam pertempuran, sementara tiga saudara laki-lakinya dan keponakannya ditangkap dan dieksekusi. Satu-satunya anggota keluarga yang berhasil melarikan diri adalah saudara tiri Ibrahim, Abu Hafs Umar bin Yahya. Ibrahim dan putranya yang tersisa, Abu Zakariya, melarikan diri dari Bejaa. Putranya berhasil mencapai keselamatan di Tlemcen tetapi Ibrahim terluka karena jatuh dari kudanya, ditangkap dan dikirim kembali ke Béjaïa di mana ia dieksekusi oleh utusan Ibn Abi Umara pada Juni 1283.[3]: 86


 

Ibrahim was the son of Abu Zakariya Yahya and a concubine named Ruwaida, and younger half-brother of Muhammad I al-Mustansir. He was described by the 14th century chronicler Ibn al-Khātib as being of average height but overweight, with brown skin and pleasant features.[3]: 78 

When Al-Mustansir came to power, Ibrahim was placed under close surveillance but in 1253 he fled to the town of Zaraïa (near Sétif) where he took refuge with nomadic Thawawida tribesmen. Here he proclaimed himself ruler and began a rebellion and began preparing to advance on Gabes, but some of his allies abandoned him and he had to withdraw to Tlemcen, from where he fled to Granada and was received by Muhammad I. After the death of Al-Mustansir, he returned to Ifriqiya and overthrew Al-Wathiq in 1279.[3]: 41 

 

Abu Ishaq Ibrahim I (Arabicأبو إسحاق إبراهيم) was the Hafsid emir of Ifriqiya (1279–1283).[1][2]

Ibrahim came to power during the struggles that broke out under Yahya II al-Wathiq. In contrast to his two predecessors, he only held the title of emir and did not claim the caliphate for himself. He was overthrown by the rebellion of Ibn Abi Umara.

Having obtained power, Ibrahim freed his five sons, who had been imprisoned by al-Mustansir. He then imprisoned his predecessor Yahya II al-Wathiq together with three of his sons, whom he put to death soon after. Wishing to emphasise his role as successor to his father rather than to his brother or nephew, he did not adopt the title of Khalifa but revived his father’s simpler style of Emir.[3]: 78–9 

During Ibrahim’s reign the Hafsid state maintained good diplomatic and trading relations with the Italian states, paying tribute to Charles I of Naples as well as to the republics of Genoa and Venice. He also strengthened relations with his western tributary, Yaghmurasen Ibn Zyan of Tlemcen, marrying his daughter to Ibn Zyan’s son and heir.[3]: 83–4 

In 1282 the governor of Constantine, Ibn al-Wazir declared rebellion, having secured military support from Peter III of Aragon.[3]: 81  However by the time Aragonese troops landed at Collo, Ibn al-Wazir had been defeated and killed by Ibrahim’s son, Ibn Faris, governor of Bejaïa.[4]

Ibrahim was overthrown by a rebellion in the south of his territories that may have had Aragonese support.[4] Ahmad bin Marzūq bin Abi Umara (known as Ibn Abi Umara) was from Msila and had previously tried to pass himself off as the Mahdi among the Maqil Arabs of Morocco. In 1282 he was in the Tripoli region, where a former retainer of Yahya II al-Wathiq claimed to recognise him as Al-Fadl, son of the former Caliph who had in fact been executed along with his father by Ibrahim. The local tribesmen rallied to his support, and though he was not able to take Tripoli, Gabes opened its gates to him. He took Gafsa, then Kairouan and Sfax, and was proclaimed Caliph. An army sent against him under Ibrahim’s son Abu Zakariya dispersed without fighting. In January 1283, as panic seized Tunis, Ibrahim took flight. Denied refuge in Constantine, he reached Bejaïa in February, where his son Abu Faris obliged him to abdicate, declaring himself Caliph with the name Al-Mu’tamid.[3]: 85 

Abu Faris led an army against Ibn Abi Umara which met his forces in June 1283 near Kalaat es Senam. The result was the total defeat of Hafsid forces. Abu Faris was killed in battle, while three of his brothers and his nephew were captured and executed. The only family member who managed to escape was Ibrahim’s half-brother Abu Hafs Umar bin Yahya. Ibrahim and his remaining son Abu Zakariya fled Bejaïa. The son was able to reach safety in Tlemcen but Ibrahim was injured by a fall from his horse, captured and sent back to Béjaïa where he was executed by an emissary of Ibn Abi Umara in June 1283.[3]: 86 


 

 

Jumat, 17 Juni 2022

Kisah Syaikh Jamaluddin Al-Abhari

 Kisah Syaikh Jamaluddin Al-Abhari 

Jamaluddin al-Husain (1310-1453M) dikenal sebagai seorang mubaligh terkemuka, dia menyebarkan Islam di NusantaraWali Songo yang terkenal kemudian berasal dari keturunannya. Ia dilahirkan pada tahun 1310 M di negeri Malabar, di dalam wilayah Kesultanan Delhi. Ayahnya adalah seorang amir negeri Malabar, yang bernama Amir Ahmad Syah Jalaluddin.

Silsilah

1.   Jamaluddin al-Husain bin

2.   Ahmad Syah Jalaluddin bin

3.   Amir Abdullah Azmatkhan bin

4.   Abdul-Malik Azmatkhan bin

5.   Alwi ‘Ammil Faqih bin

6.   Muhammad Shohib Mirbath bin

7.   Ali Khali' Qasam bin

8.   Alwi Shohib Baiti Jubair/'Alwi Ats Tsani bin

9.   Muhammad Shohibus Saumah bin

10.                      Alawi bin

11.                      Ubaidillah

12.                      Ahmad al-Muhajir bin

13.                      Isa bin

14.                      Muhammad an-Naqib bin

15.                      Ali bin

16.                      Imam Ja’far ash-Shadiq bin

17.                      Imam Muhammad al-Baqir bin

18.                      Imam Ali bin Husain bin

19.                      Imam Husain Asy-Syahid bin

20.                      Ali bin Abu Thalib

Keluarga

Maulana Husain lahir di Malabar India 1310, ibu dari Samarkand, Uzbekistan, memiliki banyak saudara di antaranya: adik bungsu HUSEIN lahir 1326 di AGRA sewaktu dilantik jadi raja 1351 bergelar JAMALUDDIN di champa sekitarnya mendapat gelar ALKABIR; AHMAD JUMADIL KUBRO LAHIR 1311 DIDELHI DARI IBU BINTI NIZAMULMULK; Aludeen Abdullah, Amir Syah Jalalluddeen (Sultan Malabar), Alwee Khutub Khan, Hasanuddeen, Qodeer Binaksah, Ali Syihabudeen Umar Khan, Syeikh Mohamad Ariffin Syah (Datuk Kelumpang Al Jarimi Al Fatani) dan Syeikh Thanauddeen (Datuk Adi Putera) .

Maulana Muhammad dianggap memiliki beberapa nama panggilan yg salah, diantaranya Sayyid Husain Jamaluddin, Syekh Maulana Al-Akbar atau Syekh Jamaluddin Akbar Gujarat, ia tercatat memiliki 6 istri, yaitu:

1.   Lalla Fathimah binti Hasan bin Abdullah Al-Maghribi Al-Hasani (Maroko), memperoleh seorang anak, yang kemudian dikenal dengan nama Maulana Muhammad Al-Maghribi.

2.   Puteri Nizam Al Mulk dari Delhi, memperoleh 4 anak yaitu: Maulana Ahmad Jumadil Kubra (maqom Terboyo Semarang), Maulana Muhammad ‘Ali Akbar, Maulana Muhammad Al-Baqir (Syekh Subakir), Syaikh Maulana Wali Islam.

3.   Puteri Linang Cahaya, (menikah tahun 1350 M), memperoleh 3 anak, yaitu: Pangeran Pebahar, Fadhal (Sunan Lembayung), Sunan Kramasari (Sayyid Sembahan Dewa Agung), Syekh Yusuf Shiddiq (Ayah dari Syekh Quro, Karawang).

4.   Puteri Ramawati (Puteri Jeumpa/Pasai) (Menikah tahun 1355 M), memperoleh seorang anak yang bernama Maulana Ibrahim Al Hadrami.

5.   Puteri Syahirah dari Kelantan (Menikah tahun 1390 M) memperoleh 3 anak. yaitu ’Abdul Malik, ‘Ali Nurul ‘Alam dan Siti ‘Aisyah (Putri Ratna Kusuma.

6.   Puteri Jauhar (Diraja Johor), memperoleh anak bernama Muhammad Berkat Nurul Alam dan Muhammad Kebungsuan

Keempat isterinya yang terakhir, ia nikahi selepas tiap-tiap seorang daripadanya meninggal dunia

Sejarah Dakwah.

Pada tahun 1349 M besama adiknya Syeikh Thanauddeen (Datuk Adi Putera), tiba di Kelantan dalam menjalankan misi dakwahnya.

Dari Kelantan ia menuju Samudra Pasai, dan ia kemudian bergerak ke arah Tanah Jawa. Di Jawa ia menyerahkan tugas dakwah ke anakanda tertuanya Maulana Malik Ibrahim. Jamaluddin Akbar al-Husaini sendiri bergerak ke arah Sulawesi dan mengislamkan Raja Lamdusalat (La Maddusila Toappasawe' Datu Tanete) pada tahun 1380 M.

Pada awal abad ke-15, Maulana Husain mengantar puteranya Maulana Ibrahim Al Hadrami ke tanah Jawa.

Pada akhirnya ia memutuskan untuk bermukim di Sulawesi, hal ini dikarenakan, sebagian besar orang Bugis ketika itu belum masuk Islam. Ia wafat pada tahun 1453, dan dimakamkan di Wajo Sulawesi.

Prana Luar

·         Syeikh Dawud al-Fatani: satu analisis peranan dan sumbangannya terhadap khazanah Islam di Nusantara, Ibrahim Ismail (Haji), Akademi Pengajian Melayu, 1992 - Islam - 62 pages

·         Syeikh Daud bin Abdullah al-Fatani: ulamaʼ dan pengarang terulung Asia Tenggara, Mohd. Shaghir Abdullah (Hj. W.), Penebitan Hizbi, 1990 - Koran - 174 pages

·         Maulana Husain, Pelopor Dakwah Nusantara (Kisah, Silsilah dan Data Keturunannya)

 

istihsan dan kedudukannya sebagai dalil

  BAB I PENDAHULUAN   Setelah abad ketiga/kesembilan, para ahli ushul fiqh mazhab Hanafi mengambil langkah-langkah yang memutus citra ...