QOULAN MAYSURA
Hampir dalam keseharian kita pasti
mendengar atau bahkan membaca ungkapan yang tak sepatutnya diucapkan oleh
manusia yang mempunyai kedudukan mulia disisi rabb-Nya, maka tak elok kalau
fikiran, hati dan ucapan kita dipenuhi oleh umpatan penuh kebencian, bahkan
dalam surat al-Humazah Allah sudah mengingatkan kita, ‘Celakalah bagi setiap
pengumpat dan pencela,’ dipastikan akan dimasukkan ke dalam neraka,
‘Sekali-kali tidak! pasti dia akan dilemparkan ke dalam neraka hutomah.’
Berhentilah mengumpat apalagi mencela, mulailah berkata dengan mudah penuh
dengan kelembutan, Allah berfirman :
“Dan jika
engkau berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang engkau
harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang lemah lembut.”
(QS. Al-Isra’
17: Ayat 28).
Secara
etimologis, kata maysuran berasal dari kata yasara yang artinya mudah atau
gampang (Al-Munawir). Ketika kata maysuran digabungkan dengan kata qaulan
menjadi qaulan maysuran yang artinya berkata dengan mudah atau gampang. Berkata
dengan mudah maksudnya adalah kata-kata yang digunakan mudah dicerna,
dimengerti, dan dipahami oleh komunikan, sehingga bahasa yang disampaikan akan
mudah dicerna oleh masyarakat umum, ini menjadi tugas bersama untuk
menyampaikan pesan moral dengan jelas dan gamblang.
Ayat tersebut
turun terkait dengan sebuah peristiwa ketika orang-orang dari Muzainah meminta
kepada Rasulullah SAW supaya diberi kendaraan untuk jihad.
Rasulullah SAW mengatakan bahwa beliau
tidak mendapatkan lagi kendaraan untuk mereka. Hal itu membuat orang-orang
Muzainah tersebut berpaling dengan air mata berlinang karena sedih dan mengira
bahwa Rasulullah SAW marah kepada mereka. Maka turunlah Q.S. al-Isra’ : 28 yang
menjadi petunjuk bagi Rasulullah SAW bagaimana seharusnya menolak sebuah
permintaan.
Al-Sabuni
dalam Safwah al-Tafasir menjelaskan qaulan maisura dengan perkataan yang
halus, mudah dicerna, disertai dengan janji yang “indah” untuk mereka.
Sedangkan Ibnu Kasir dalam kitabnya menjelaskan bahwa qaulan maisura adalah
ucapan yang pantas, serta janji yang menyenangkan yang memberi harapan positif
bagi pihak yang diberi janji.
Salah satu
prinsip komunikasi dalam Islam adalah setiap berkomunikasi harus bertujuan
mendekatkan manusia dengan Tuhannya dan hamba-hambanya yang lain. Islam
mengharamkan setiap komunikasi yang membuat manusia terpisah dari Tuhannya dan
hamba-hambanya. Seorang komunikator yang baik adalah komunikator yang mampu
menampilkan dirinya sehingga disukai dan disenangi orang lain. Untuk bisa
disenangi orang lain, ia harus memiliki sikap simpati dan empati. Simapti dapat
diartikan dengan menempatkan diri kita secara imajinatif dalam posisi orang
lain. Komunikasikan ide gagasan dengan qaulan maysura dalam ranah apapun menjadi
prasyarat agar komunikasi kita merangsek ke dalam relung hati setiap audiens,
perkataan yang tidak bersayap yang cenderung bikin audiens ambigu.
Namun dalam komunikasi, tidak hanya
sikap simpati dan empati yang dianggap penting karena sikap tersebut relatif
abstrak dan tersembunyi, tetapi juga harus dibarengi dengan pesan-pesan
komunikasi yang disampaikan secara bijaksana dan menyenangkan, bukankah kita
diajarkan membuat orang tersenyum bukan sebaliknya membuat orang galau, gelisah
bahkan cenderung mengarah pada ujar an kebencian yang berujung anarkis
Kesimpulannya,
qaulan maysura bermakna ucapan yang mudah, yakni mudah dicerna, mudah
dimengerti, dan mudah dipahami oleh komunikan. Makna lainnya adalah kata-kata
yang menyenangkan atau berisi hal-hal yang menggembirakan. Jadikan ucapan kita
harus mengandung nilai keridhaan bukan nilai kemurkaan, sebagaimana Nabi
Muhammad SAW bersabda:
Artinya:
“Sesungguhnya ada seorang hamba benar-benar berbicara dengan satu kalimat yang
termasuk keridhaan Allah, dia tidak menganggapnya penting; dengan sebab satu
kalimat itu, Allah menaikkan beberapa derajat. Dan sesungguhnya ada seorang
hamba benar-benar berbicara dengan satu kalimat yang termasuk kemurkaan Allah,
dia tidak menganggapnya penting; dengan sebab satu kalimat itu, dia terjungkal
di dalam neraka Jahannam.”
( Hadits
Bukhari )
Setidaknya
dengan kita selalu merawat lisan kita, tentu keselamatan dan kedamaian akan
menghampiri kita, kita pun akan dijauhkan dari bara siksa api neraka, jika kita
mampu mengolah kata dengan baik dan bijaksana. []