Selasa, 31 Mei 2022

Kisah Abdul Qodir Jailani

Alkisah, semasa hidupnya, Sang Wali Qutub Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani memiliki pengaruh yang begitu luas dan terus meluas ke seluruh penjuru dunia. Murid-muridnya banyak yang kemudian memperoleh kedudukan penting, di antaranya menjadi penguasa. Beliau memang menugaskan dan mengirimkan sebagian muridnya agar dapat menjadi wakilnya sesuai dengan kapasitas diri dan kualitas batin masing-masing. Ada yang menempati jabatan hakim, gubernur, hingga raja. Sedangkan sebagian lainnya diangkat menjadi guru spiritual karena tingkatan rohaninya.

Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani diceritakan memiliki seorang pembantu di kediamannya. Pembantu tersebut adalah seorang faqir yang telah mengabdi selama 40 tahun. Dalam rentang waktu itu, ia telah menyaksikan beberapa murid yang jauh lebih muda dan belum lama mengabdi, namun dipilih oleh Sang Wali untuk menempati jabatan penting.

Akhirnya, pembantu tersebut menghadap ke Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani berharap agar diberikan posisi penting tertentu mengingat ia salah seorang yang telah paling mengabdi. Ia khawatir dengan usianya yang semakin tua, pembantu itu menyampaikan maksud permohonannya. Akan tetapi, belum selesai ia berkata-kata, datang satu utusan dari India. Mereka meminta Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani untuk menunjuk seorang maharaja bagi kerajaan mereka.

Sang Wali Qutub lalu menatap pembantunya dan menanyakan: “Apakah kamu sanggup mengemban tugas ini? Apakah dirimu memenuhi syarat?” Pembantu tersebut mengangguk penuh sukacita.

Selepas para utusan keluar dari ruang pertemuan, Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani menyampaikan persyaratan kepada pelayannya. Dia berkata: “Aku akan mengangkatmu sebagai maharaja di sana, namun kamu harus berjanji untuk memberikanku separuh dari keuntungan dan kekayaan kerajaan yang kamu peroleh selama berkuasa.” Pelayan tersebut tentu saja dengan senang hati menyanggupinya.

Pelayan Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani yang bekerja sebagai juru masak itu kembali ke pekerjaannya di dapur. Dirinya harus menyiapkan dan menyajikan sebuah hidangan besar. Saat tengah mengaduk masakannya di dalam kuali raksasa dengan sendok kayu, ia dipanggil untuk pergi bersama utusan-utusan dari India karena akan segera dinobatkan menjadi maharaja di negeri tersebut.

Sesampai di India, pembantu Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani pun diangkat menjadi raja. Ia memperoleh kekayaan yang melimpah-ruah. Tak lama, dirinya menikah dan dikaruniai seorang anak laki-laki. Ia membangun banyak istana untuk dirinya dan keluarganya sendiri. Kekuasaan, keberlimpahan, dan kesenangan hidup dengan segera membuatnya melupakan Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani berikut dengan janji yang pernah ia ucapkan dahulu. Dia sudah terlalu asik dan tenggelam dengan dunia barunya.

Pada suatu hari, Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani mengirim utusannya untuk menyampaikan bahwa ia akan berkunjung. Pelayan yang telah menjadi raja di India tersebut bersiap-siap menyambut kedatangan Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani di kerajaannya.

Setelah serangkaian prosesi upacara, serta pesta meriah nan megah diselenggarakan, mereka berbincang berdua. Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani mengingatkan kesepakatan mereka bahwa ia harus menyerahkan setengah dari hasil keuntungan kerajaan kepada beliau.

Maharaja tersebut jengkel karena diingatkan janji untuk memberikan sebagian kekayaannya kepada sang wali. Apa boleh dibuat, maharaja tidak bisa mengingkari janjinya, dia menyampaikan kepada Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani bahwa dirinya akan menyerahkan setengah harta kerajaannya pada esok lusa. Meskipun demikian, terlintas dalam niatnya kalau dia tidak akan sungguh-sungguh memberikan sejumlah itu.

Kekayaan yang menumpuk seiring waktu, mengakibatkan sifat tamak raja pun tumbuh. Ia melakukan pencatatan aset secara tidak jujur. Ia membawa daftar kekayaan tersebut di hari yang telah direncanakan. Lalu memberikan sebagian harta kekayaannya kepada Sang Wali sesuai dengan catatan yang telah dibuat. Meskipun catatan tersebut mencantumkan banyak istana dan harta lainnya, namun itu hanyalah sebagian kecil dari miliknya. Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani terlihat puas melihat daftar kekayaan yang ia diterima.

Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani lantas bertanya: “Aku mendengar kau juga mempunyai seorang anak laki-laki?”

“Iya, sayangnya hanya seorang. Jika ada dua, pasti aku pun akan memberikan salah satunya padamu.”

“Tidak apa-apa, kemarikan anak itu.” Perintah Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani. “Kita masih dapat membaginya.”

Anak itu dibawa ke hadapan mereka. Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani menghunus pedangnya yang tajam tepat di atas bagian tengah kepala anak itu. “Kamu akan mendapatkan setengahnya, dan setengahnya lagi akan menjadi bagianku!” Tukas beliau.

Sang ayah begitu ketakutan. Ia mencabut belatinya sendiri dan menujamkan tusukan dari kedua tangannya ke dada Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani dengan kedua mata terpejam. Ketika ia membuka matanya, ternyata ia masih sedang mengaduk makanan di kuali besar dengan sendok kayu. Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani berdiri tepat di hadapannya dan menatap lekat-lekat. Sang Wali berujar: “Sebagaimana kau saksikan sendiri, kau belum siap menjadi wakilku. Karena kau belum menyerahkan segalanya, termasuk dirimu, kepadaku!”

Sebagai kekasih Tuhan, Syekh Muhyiddin Abdul Qadir Al-Jaelani, dikarunia dengan kemampuan “membaca” manusia karena dirinya telah kasyaf (tersingkapnya tabir antara dirinya dengan Tuhan). Dia dapat menyelami dimensi hakikat yang memperlihatkan sifat-sifat asli manusia telanjang di mata batinnya. Sehingga dia mengetahui persis siapa-siapa manusia yang cocok untuk satu urusan, tetapi tidak tepat menempati posisi tertentu. Hal tersebut terkait dengan perbedaan maqom atau derajat diri.

Manusia itu hakikatnya unik. Keunikan yang merupakan sebuah keniscayaan karena sebagai hasil karya Tuhan, manusia diciptakan dengan keanekaragamannya masing-masing. Keunikan tersebut meliputi perbedaan segala sifat dan karunia yang diterima oleh tiap manusia sesuai dengan kadar kemampuan dan kapasitas lahir-batinnya. Jika dalam sebuah lintasan takdir seorang manusia direncanakan Tuhan akan menjadi pemimpin besar, sudah tentu dalam dirinya memiliki daya-daya rohani yang telah disiapkan oleh Tuhan.

Tersingkapnya daya-daya tersebut pastilah melewati proses panjang pematangan diri dengan berbagai ujian dalam pengalaman hidup. Proses ini berbeda antara satu manusia dengan manusia lainnya, sehingga juga akan melahirkan kualitas pribadi yang tidak akan pernah sama. Ketika seorang manusia menyadari anugerah yang diperolehnya dari Tuhan, bisa bakat atau keahlian tertentu, pada dasarnya dia sedang diarahkan untuk mencapai sebuah tujuan takdir tertentu. Namun, jika dirinya bernafsu menghendaki sesuatu atau posisi yang bukan adalah bagian takdirnya, dia tidak akan pernah sampai ke sana.

Walhasil, sudahkah kita sendiri menyadari di mana maqom kita? Sejauh mana kita telah memposisikan diri sesuai dengan kapasitas lahir-batin yang dianugerahi? Wallahu a’lam bisshawab.

 


Senin, 30 Mei 2022

Kisah Asif Bin Barkhoya

 

Ashif bin Barkhoya merupakan sosok figur yang berperan penting dalam bertemunya Raja Sulaiman dengan Ratu Bilqis. Beberapa mengatakan bahwa Ashif merupakan sepupu dari Nabi Sulaiman, akan tetapi sebagian yang lain mengatakan bahwa Ashif merupakan sekretaris dari Nabi Sulaiman. Sebagaimana dikisahkan dalam Al-Qur`an Raja Sulaiman sendiri merupakan sosok yang memiliki kelebihan dapat berbicara dengan semua makhluk mulai dari hewan, tumbuhan, bahkan semua yang berasal dari negeri ghoib.

Dikisahkan Nabi Sulaiman merupakan Raja yang wilayah kekuasaannya sangat luas. Pada suatu hari, Nabi Sulaiman menginginkan seluruh makhluk yang berada di bawah kekuasaannya untuk berkumpul. Akan tetapi, ketika “pengabsenan” tidak dijumpai sosok burung hud-hud dalam majelis tersebut. Nabi Sulaiman bertanya kepada Hud-hud tentang alasan mengapa ia tak ikut berkumpul pada hari itu.

Burung Hud-hud pun menceritakan bahwa ketika seluruh makhluk berkumpul, ia sedang berpatroli menuju arah Yaman tepatnya daerah Saba’. Ketika sampai di tempat tersebut, ia menjumpai suatu kerajaan besar yang dipimpin oleh seorang wanita. Akan tetapi, Hud-hud melihat ada yang aneh di kerajaan tersebut, yakni mereka tidak menyembah Allah akan tetapi menyembah matahari dan bintang-bintang.

Mendengar cerita Hud-hud, Nabi Sulaiman tertarik untuk mencari tahu lebih dalam mengenai siapakah ratu dari kerajaan tersebut. Diperintahkanlah Hud-hud untuk menyampaikan surat kepada Ratu Saba’. Setelah Ratu membaca surat dari Nabi Sulaiman, Ratu Saba’ terpancing untuk mendatangi kerajaan Nabi Sulaiman. Keesokan harinya Ratu Saba’ memerintahkan prajurit dan pasukannya untuk bersiap-siap menuju kerajaan Nabi Sulaiman.

Mendapat kabar bahwa Ratu Saba’ yang bernama Bilqis tersebut hendak menuju kerajaan Nabi Sulaiman, beliau mengadakan sayembara bagi siapapun yang dapat memindahkan kerajaan Ratu Bilqis ke hadapannya. Kemudian, Jin Ifrid menawarkan kepada Nabi Sulaiman dan menyatakan bahwa ia dapat memindahkan kerajaan Ratu Bilqis dengan hanya waktu dari Nabi Sulaiman duduk hingga sebelum Nabi Sulaiman berdiri dengan sempurna. Ia menawarkan kemampuannya dengan menyombongkan diri bahwa ia kuat dan dapat dipercaya.

Akan tetapi, Nabi Sulaiman menginginkan waktu yang lebih cepat dari yang ditawarkan Jin Ifrid kepadanya. Datanglah seorang pemuda dengan kharismanya yang terpancar jelas. Ia adalah Ashif bin Barkhoya, yang menawarkan kemampuannya untuk memindah kerajaan Ratu Bilqis hanya dalam satu kedipan mata. Nabi Sulaiman sangat bersyukur dan gembira mendengar tawaran tersebut. Ashif pun berhasil membuktikannya. Ia berhasil memindahkan singgasana Ratu Bilqis yang berada di Yaman menjadi di Baitul Maqdis, Palestina dalam satu kedipan mata.

Nabi Sulaiman dan segenap orang yang menyaksikan terkesima akan kehebatan Ashif. Lalu apakah yang membuat Ashif memiliki kehebatan yang melebihi Jin Ifrid? Ini adalah contoh nyata bahwa Allah memiliki hamba-hamba eksklusif yang sudah tidak lagi dipusingkan perihal surga dan neraka. Asif merupakan sosok figur yang beribadah kepadan Allah bukan karena takut akan neraka dan menginginkan surga. Akan tetap, ia beribadah hanya karena cinta. Cintanya kepada Sang Pencipta membawanya pada tingkatan yang lebi tinggi dari manusia lainnya.

Ashif bukan seorang ilmuwan, akan tetapi ia adalah seorang ahli tasawuf yang mengamalkan banyak tarekat. Dikarenakan ia dekat dengan Allah, sehingga ia memiliki kelebihan-kelebihan yang tak disangka-sangka. Begitu banyak ilmu laduni yang ia terima langsung dari Allah. Sehingga tak heran jika di kalangan kajian-kajian yang membahas ilmu tasawuf, ia sangat dikenal dan sangat menjadi panutan. Apa yang ada dalam hati Ashif dan ia niatkan, maka niscaya akan terjadi termasuk berpindahnya istana Ratu Bilqis. Dalam suatu riwayat dikatakan bahwa Ashif dahulunya adalah seorang ahli maksiat. Meski demikian, ia kemudian bertaubat dan menjadi hamba yang sangat taat.

 

Minggu, 29 Mei 2022

Kisah Ular Yang Merindukan Rasulullah Saw

 

Inilah yang ditunjukkan oleh Abu Bakar As-Shiddiq Ra. Sebagai seorang sahabat kepercayaan Rasulullah Saw., ia merelakan semua yang dimilikinya demi keselamatan dan perjuangan dakwah Rasulullah Saw. Bahkan ia merelakan nyawanya terancam demi menemani Rasulullah Saw. ketika dikejar-kejar oleh para jagal Quraisy untuk dibunuh.

Seperti dikutip Laduni.id dari berbagai sumber, kisah ini berawal dari keikutsertaan Abu Bakar bersama Rasulullah Saw. sebelum meninggalkan kota Mekkah. Saat pemuda kafir Quraisy yang berniat memenggal kepala Rasulullah kehilangan jejak Rasul dan hanya menemukan seorang pemuda bernama Ali bin Abi Thalib di bilik Rasul, Abu Bakar mendampingi Rasul bersembunyi di gua kecil di bukit Tsur.

Abu Bakar tetap setia mendampingi Nabi Muhammad menginap di dalam gua. Sebelum beliau memasuki gua, Abu Bakar dengan sigapnya mengecek dan menutup lubang-lubang yang ada di dalam gua agar mereka terhindar dari binatang buas.

Di dalam gua, mereka sepakat untuk bergantian berjaga. Dalam tidurnya, Rasulullah Saw. melabuhkan kepalanya di pangkuan sang sahabat.

Di dalam gua yang dingin dan remang-remang, tiba-tiba seekor ular mendesis keluar dari salah satu lubang yang belum ditutup oleh Abu Bakar. Abu Bakar menatapnya waspada, ingin sekali ia menarik kedua kakinya untuk menjauh dari hewan berbisa ini. Namun, keinginan itu dienyahkan dari benaknya, karena tak ingin ia mengganggu tidur Rasulullah Saw. Bagaimana mungkin, ia tega membangunkan kekasih Allah Swt. itu?

Abu Bakar menutup lubang itu dengan salah satu kakinya. Lalu ular itu menggigit pergelangan kakinya, tapi kakinya tetap saja tak bergerak sedikitpun dalam hening. Sekujur tubuh Abu Bakar terasa panas, ketika bisa ular menjalar cepat di dalam darahnya.

Abu Bakar tak kuasa menahan isak tangis ketika rasa sakit itu tak tertahankan lagi dan tanpa sengaja air matanya menetes mengenai pipi Rasulullah Saw. yang tengah berbaring.

Rasulullah Saw. terbangun lalu berkata, “Wahai hamba Allah, apakah engkau menangis karena menyesal mengikuti perjalanan ini?”

“Tentu saja tidak. Saya ridha dan ikhlas mengikutimu ke mana pun,” jawab Abu Bakar.

“Lalu mengapakah, engkau meluruhkan air mata?” bertanya Rasulullah Saw. dengan bersahaja.

“Seekor ular baru saja menggigit saya, wahai Rasulullah. Lalu bisanya menjalar begitu cepat ke dalam tubuhku,” jawab Abu Bakar dengan suara tercekat.

Lalu Rasulullah Saw. berbicara kepada ular itu. ” Hai, tahukah kamu? Jangankan daging atau kulit Abu Bakar, rambut Abu Bakar pun haram kau makan.”

Dialog Rasulullah Saw. dengan ular itu menjadi mukjizat beliau, sehingga Abu Bakar mampu mendengarnya.

“Ya aku ngerti kamu. Bahkan sejak ribuan tahun yang lalu ketika Allah mengatakan ‘Barang siapa memandang kekasih-Ku, Muhammad, fi ainil mahabbah atau dengan mata kecintaan. Aku anggap cukup untuk menggelar dia ke surga,” kata ular.

“Ya Rabb, beri aku kesempatan yang begitu cemerlang dan indah. “Aku (ular) ingin memandang wajah kekasih-Mu fi ainal mahabbah,” lanjut ular.

Lalu, apa kata Allah Swt.?

“Silakan pergi ke Jabal Tsur, tunggu di sana, kekasih-Ku akan datang pada waktunya,” jawab Allah.

“Ribuan tahun aku menunggu di sini. Aku digodok oleh kerinduan untuk jumpa Engkau, Muhammad. Tapi sekarang ditutup oleh kaki Abu Bakar, maka kugigitlah dia. Aku tidak ada urusan dengan Abu Bakar, aku ingin ketemu Engkau, Wahai Muhammad,” jawab ular.

“Lihatlah ini. Lihatlah wajahku,” kata Rasulullah.

Tanpa menunggu waktu, dengan penuh kasih sayang, Rasulullah Saw. meraih pergelangan kaki Abu Bakar. Dengan mengagungkan nama Allah Swt. Sang Pencipta semesta, Nabi Muhammad Saw. mengusap bekas gigitan itu dengan ludahnya. Maha suci Allah Swt., seketika rasa sakit itu hilang tak berbekas.

Gua Tsur kembali ditelan senyap. Kini giliran Abu Bakar yang beristirahat dan Rasulullah Saw. berjaga. Dan, Abu Bakar menggeleng kuat-kuat ketika Rasulullah Saw. menawarkan pangkuannya untuk beristirahat. Tak akan rela, dirinya membebani pangkuan penuh berkah itu.

 

Sabtu, 28 Mei 2022

Kisah Si Pitung



Selanjutnya merupakan cerita rakyat Betawi, yaitu cerita rakyat Si Pitung. Si Pitung merupakan jagoan dari Betawi yang berperan dalam melawan penindasan dari penjajah Belanda. Pitung pun bertekad untuk memperdalam ilmu agama dan ilmu persilatan. Akhirnya Si Pitung pun berguru pada Haji Naipin, hingga akhirnya Pitung menguasi segala ilmu yang diajarkan oleh Haji Naipin.

Pitung pun diberi pesan oleh Haji Naipin sebagai gurunya, untuk tidak sombong dan senantiasa menggunakan ilmu yang dikuasai untuk membela orang-orang tertindas. Jangan pernah menggunakan ilmu yang dimiliki untuk menindas orang. Dari mulai saat itu, Si Pitung pun bertekad untuk menegakkan keadilan dan menumpas kedzaliman.



Jumat, 27 Mei 2022

Kisah Timun Mas

 Cerita rakyat timun mas merupakan salah satu cerita rakyat yang populer. Menceritakan tentang seseorang wanita yang hidup sendirian. Sarni pun menemukan dua buah timun, satu timun yang sangat besar. Setelah timun tersebut dibelah, ternyata terdapat seorang bayi di dalamnya, Sarni pun memberi nama bayi tersebut Timun Mas.

Cerita rakyat ini menceritakan tentang Timun Mas dan Sarni yang melawan monster raksasa. Hingga akhirnya, Timun Mas pun berhasil mengalahkan raksasa tersebut dan membuat Sarni dan Timun Mas bisa hidup damai dan bahagia, tanpa ada gangguan dari raksasa yang membuat hidup mereka berbahaya dan tidak tenang.


Kisah Sulaiman dan Burung Hud Hud

 


Nabi Sulaiman dianugerahi istana dan kerajaan yang besar oleh Allah SWT. Pasukannya begitu kuat yang terdiri dari manusia, jin, dan hewan. Burung hud hud menjadi salah satu yang ditugaskan untuk mencari informasi dari daerah lawan.

Suatu hari, burung hud hud sedang terbang melintasi negeri Saba’. Ia melihat ada kerajaan dengan istana megah di dalamnya. Kerajaan itu dipimpin oleh ratu cantik yang bernama Balqis.

Namun ada yang aneh dari kerajaan ini. Bukannya menyembah Allah, mereka justru beramai-ramai menyembah matahari. Melihat keanehan ini, burung hud hud pun berniat memberikan informasinya kepada Nabi Sulaiman.

Burung hud hud kembali ke kerajaan dan bergegas menyampaikan pesan tersebut kepada tuannya. Nabi Sulaiman tersenyum dan berkata, “Kita lihat saja, apakah kamu benar atau kamu termasuk orang-orang yang berdusta”.

Kemudian Nabi Sulaiman menuliskan surat kepada Ratu Balqis. Ia mengajak Ratu Balqis beserta seluruh rakyatnya untuk meninggalkan sembahan matahari dan beralih menyembah Allah SWT.

Surat tersebut dibawa burung hud hud dan disampaikan kepada Ratu Balqis. Setelah surat diterima, burung hud hud pun menetap sebentar. Ia berniat menguping pembicaraan serius antara Ratu Balqis dengan para menterinya.

"Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan juga memiliki keberanian dalam berperang. Keputusan berada di tanganmu. Pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan!" kata seorang menteri kepada Ratu Balqis.

Ratu Balqis tidak sepakat dengan ajakan perang yang diusulkan menterinya itu. Ia merasa bahwa Sulaiman bukanlah orang biasa, melainkan orang terpandang. Sebab, surat yang ia tulis menggunakan bahasa yang begitu sopan dan luhur.

Dalam buku Satwa dan Puspa dalam Alquran karya Dewi Rieka, disebutkan bahwa akhirnya Ratu Balqis mengirim utusannya untuk memberikan hadiah kepada Sulaiman. Ia ingin mengetahui bagaimana reaksi Sulaiman menerima hadiah yang diberikannya.

Mendengar hal tersebut, burung hud hud pun berbegas kembali ke istana Sulaiman. Ia menyampaikan semua informasi yang ia dengar kepada tuannya.

Pasukan Ratu Balqis disambut dengan hangat. Mereka amat terkejut melihat istana yang begitu megah dan mewah, dengan pasukan gagah dari golongan manusia, jin, dan hewan. Sang utusan pun menjadi gentar dibuatnya.

Dengan halus, Sulaiman menolak hadiah sang utusan dan ia berkata, "Apakah kamu patut menolong aku dengan harta? Allah telah memberiku lebih dari apa yang Dia berikan kepadamu."

Akhirmya, pulanglah sang utusan membawa kembali hadiah-hadiah itu. Burung Hud hud kembali ke negeri Saba' untuk mencari informasi baru. la mendengarkan percakapan antara Ratu Balqis dan para menterinya.

Sang Ratu takjub dan ingin menemui Sulaiman. Mendengar itu, burung hud hud pun kembali ke kerajaannya. la melaporkan akan kedatangan Ratu Balqis ke kerajaan Sulaiman.

Apa yang paling disukai rakyat negeri Saba' wahal Hud hud?" tanya Sulaiman kepada hud hud.

"Mereka paling bangga akan singgasana ratu yang megah, Tuanku." jawab burung hud hud.

Sulaiman pun memerintahkan anak buahnya untuk mengambil singgasana Ratu Balqis dari negeri Saba'. Kemudian, singgasana itu diubahnya sedikit.

Setibanya Ratu Balqis di kerajaan Sulaiman, alangkah terkejutnya dia melihat singgasananya telah berada di depannya. Ratu Balqis pun takjub dengan singgasananya yang telah berpindah sejauh ribuan kilometer ke kerajaan Sulaiman.

Dia dan kaumnya pun bersujud dan menyembah Allah SWT. Dalam peristiwa ini, burung Hud hud telah berjasa besar membantu Nabi Sulaiman untuk mengingatkan umatnya agar menyembah Allah SWT.

 

Kamis, 26 Mei 2022

Cerita Rakyat Malin Kundang

 Next is the folklore of malin kundang. The folk tale of Maling Kundang comes from Minangkabau, telling about Malin, a child who migrates from his hometown and finds success, so he can propose to a rich woman. However, Malin was very embarrassed about his very miserable past.


One time, Malin went home and took his wife to his hometown. Malin's mother, who has been left behind for a long time, is happy to find her son back home. However, with high prestige, Malin pretended not to know his mother, so as not to be downgraded in front of his wife. The reason is, Malin's mother looks ragged, and very miserable.


Malin's mother was very sad, and prayed to God Almighty, so that Malin would be punished for his disobedient attitude. Malin's mother's prayer was answered, and Malin was then cursed to become a stone. This story teaches us to always respect and obey our parents, especially to a mother.


Selasa, 24 Mei 2022

Kisah Nabi Khaidir dan Musa

 

    Nabi Khaidir menjadi salah satu utusan Allah SWT yang kisahnya ditulis dalam Al Quran. Dituliskan, Nabi Khidir bertemu dengan Nabi Musa dan memulai petualangan yang penuh pelajaran.

    Kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa ini diceritakan lengkap dalam Al Quran Surat Al Kahfi ayat 60-82. Ketika itu Nabi Musa diketahui tengah melakukan perjalanan jauh menuju ke arah laut.

    Dalam perjalanan itu, Nabi Musa bertemu dengan seseorang yang dirahmati oleh Allah SWT. Bahkan, dalam surat Al Kahfi ayat 65, Allah SWT berfirman orang itu juga dikaruniai ilmu yang melimpah.



Arab: فَوَجَدَا عَبْدًا مِنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا



Latin: fa wajadā 'abdam min 'ibādinā ātaināhu raḥmatam min 'indinā wa 'allamnāhu mil ladunnā 'ilmā



Artinya: Lalu mereka berdua bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan rahmat kepadanya dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan ilmu kepadanya dari sisi Kami.



Nabi Musa pun bertanya kepada orang itu yang tidak lain adalah Nabi Khidir untuk menjadi muridnya. Nabi Khidir pun menjawab bila Nabi Musa tidak akan sabar bersamanya.



Arab: قَالَ اِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيْعَ مَعِيَ صَبْرًا وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلٰى مَا لَمْ تُحِطْ بِهٖ خُبْرًا



Latin: qāla innaka lan tastaṭī'a ma'iya ṣabrā wa kaifa taṣbiru 'alā mā lam tuḥiṭ bihī khubrā



Dia menjawab, "Sungguh, engkau tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana engkau akan dapat bersabar atas sesuatu, sedang engkau belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?"



Kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa pun dimulai. Hanya saja, Nabi Khidir meminta agar Nabi Musa tak menanyakan apa pun sampai Nabi Khidir sendiri yang menjelaskannya.


Keduanya pun melakukan perjalanan dengan menaiki sebuah perahu. Namun, di tengah perjalanan Nabi Khidir melubangi perahu itu.



Melihat hal itu, Nabi Musa bertanya alasan melubangi perahu. Sebab, hal itu bisa membuat penumpang di atasnya tenggelam. Nabi Khidir pun mengingatkannya bahwa Nabi Musa tidak akan tahan bersamanya.



Cerita Nabi Khidir selanjutnya, saat ia bertemu dengan seorang anak muda dan membunuhnya. Nabi Musa pun bertanya-tanya penuh misteri alasan perbuatan mungkar itu.



Nabi Khidir pun lagi-lagi mengingatkan Nabi Musa bahwa ia tidak akan mampu bersabar ketika tengah bersamanya. Mereka pun berjalan bersama kembali hingga di sebuah kota.



Sesampainya, mereka berdua meminta untuk dijamu oleh penduduk.Tetapi para penduduk tidak mau menjamu mereka. Nabi Khidir pun melihat terdapat dinding rumah yang hampir roboh dan membenarkannya.



Melihat hal itu, Nabi Musa pun mengatakan bahwa Nabi Khidir bisa meminta imbalan sebagai gantinya. Mendengar itu, Nabi Khidir pun memutuskan untuk berpisah dengan Nabi Musa.

Nabi Khidir juga menjelaskan berbagai pelajaran yang terjadi selama perjalanan kepada Nabi Musa. Nabi Khidir mengatakan bahwa perahu yang ia lubangi merupakan milik orang miskin.

Sedangkan, di depannya terdapat raja yang merampas setiap perahu. Sehingga hal itu dilakukan untuk menyelamatkan perahu tersebut.



Kemudian, anak muda yang dibunuh merupakan seorang kafir. Sementara, kedua orang tuanya adalah mukmin sehingga Nabi Khidir khawatir jikalau sang anak bisa membawa orang tuanya dalam kekafiran.

Senin, 23 Mei 2022

Cerita Rakyat La Moelu





 This short Javanese folk tale tells of a girl who was given the task by her father to take care of the small and strange fish that her father caught while fishing. The girl's name is La Moelu, just like the title of this folk tale.


La Moelu then released the fish, named Jinnade, into the sea. La Mooelu advised the fish, when he called his name, Jinnade had to go straight to the surface, because it would be fed. However, her greedy neighbor calls Jinnade and catches her to serve as a side dish. La Moelu who knew this was sad.


Then La Moelu buried Jinnade's thorns and bones. Over time, from Jinnade's bones, a golden tree grew that could be used for the good of La Moelu, who also had a very kind attitude and heart.

Minggu, 22 Mei 2022

Sangkuriang



 Next is the folklore of Sangkuriang, this story is the folklore of the Tangkuban Perahu, which contains the story of how the Tangkuban Perahu boat was created. It is a folk tale from West Java. The story begins when a woman named Dayang Sumbi has a child named Sangkuriang.


Unbeknownst to their son, they both have a dog named Tumang. The dog is the incarnation of Sangkurian's father or the husband of Dayang Sumbi. Dayang Sumbi asked Sangkuriang to get Dayang Sumbi's thread that was left behind, when Sangkuriang returned alone, not with Tumang. It turns out that Tumang was abandoned by Sangkuriang on purpose. Hearing this Dayang Sumbi was furious and threw Sangkuriang out.


This West Javanese folklore continues when Sangkuriang wanders alone leaving his hometown, and forgets everything, including about his mother. After many years, Sangkuriang returned to his hometown and did not recognize anything, including his mother. He also fell in love with Dayang Sumbi and did not know that Dayang Sumbi was his mother.


Dayang Sumbi did not even know that Sangkuriang was her son. Sangkuriang also proposed to Dayang Sumbi, Dayang Sumbi accepted. Until one day, Dayang Sumbi found out that Sangkuriang was her son and tried to annul the marriage. Sangkuriang went berserk and kicked the canoe or boat, so that later the boat formed a mountain which is now known as Mount Tangkuban Perahu.

Sabtu, 21 Mei 2022

Rawa Pening

 The following is a folk tale of Rawa Pening, which is the origin of the formation of the Rawa Pening area. It is said that a woman named Endang gave birth to a large dragon named Baru Klinting. Baru Klinting is a dragon who can talk like a normal human.


Once upon a time, people were looking for a suitable animal to serve as a party meal. The community also wanted to make Baru Klinting a meal, in the midst of Baru Klinting's activities who were imprisoned, Baru Klinting turned into a little boy and found out about the people's progress. The little boy was hungry and asked for food, no one wanted to feed except an old grandmother.


The old grandmother was given a message to take a mortar when she heard a big roar. Not long, a rumbling sound was heard and water emerged from the ground and drowned all the people in the village who were partying. Except for the kind grandmother. From that point on, the area was named Rawa Pening.





Jumat, 20 Mei 2022

Lutung Kasarung

Lutung Kasarung  

The first is the folklore of the Lutung Kasarung originating from Pasundan or the Sunda region. Tells about a king named Prabu Tapak Agung who has two daughters named Purbasari and Purbararang. The king intends to abdicate and make Purbasari the successor to the kingdom's leader. However, Purbararang was annoyed with his father's decision and intended to harm Purbasari.


Purbararang then went to the witch and cursed Purbasari so that she became ugly, her skin was covered with black spots. Purbasari was then exiled to the forest and Purbararang who became the leader of his father's successor. At one time, Purbasari was accompanied by a langur and asked Purbasari to soak in the lake, Purbasari immediately recovered and returned to being beautiful.


Purbasari also came to the kingdom and met his brother Purbararang. To determine the successor to the throne, the two of them collided, ranging from competing with long hair to competing against handsome partners. Purbasari also offered his friend's langur in the forest as a partner. Instantly the langur turned into a very handsome young man, exceeding the good looks of the Purbararang couple. Purbararang also relented and admitted his mistake. Purbasari was then appointed Queen and lived happily with her lover, Lutung Kasarung.







Selasa, 10 Mei 2022

 

CRYING STONE

The Crying Stone from the South Kalimantan area. It is said that once upon a time on a hill far from the village on Earth, Kalimantan lived a poor old man and his daughter. The mother who works daily looking for vegetables that will later be sold in the market. All that was done to meet the needs of her and her daughter.

The child is very beautiful, but unfortunately his behavior is very bad. He is very lazy and doesn't want to help his mother at all. Her job every day is just to preen and beautify herself. When the mother had just returned home, she was confronted by complaints from her daughter.

"It's been a long time, Mom, I'm hungry! look at the house there is no food," he said, grumbling.

"Sorry, son, I just came from the market, but there are still a few side dishes on the table," he explained. With a face filled with tiredness, he still forced himself to arrange the small groceries.

I'm tired of eating those foods, every day with only cassava leaves!”

Hearing his words, his mother was very sad, did not want to eat the food because it was the only food he could cook, because he did not can afford meat or fish. The girl did not care at all about the condition of her mother who was having trouble making money.

On a quiet night, the mother, who was daydreaming about her financial condition, was surprised by her daughter asking to buy new clothes.

"I want new clothes, tomorrow you have to buy them for me."

The mother who felt sorry for her, she also felt bad for her child, "Yes son tomorrow I will buy it for you."

The next day they went together to the market which was quite far from the hill where they lived, to give their child's clothes.

"Mom, don't walk beside me, you have to walk behind me, because I don't want to walk with you. I don't want to look ugly in front of people who see me. Mother is dirty, I'm ashamed. Anyway, mother is walking behind me period!”

The two of them finally walked away from each other, the mother walking behind her child. Finally they both arrived at the village. Many young men who see the beauty of the girl, many young men who want to get acquainted with the girl. They started to ask the girl

"Miss, if I may ask, where are you headed and where are you from?" asked the first young man.

"I'm looking for new clothes."

“Is the old man walking behind you your mother?” asked the next young man who met him.

"No! he is my babe,” he explained innocently saying that.

His mother who heard it was very, very sad to hear that, it didn't stop there, everyone who asked him about the woman behind him, he continued to answer with hurtful words.

Until one day his mother felt very sad and she said with tears in her eyes, "Oh my son, how dare you disobey your mother who has loved and patiently cared for you, I don't know what wrath you will receive from God."

Hearing what her mother said, the girl cried and begged for mercy, but unfortunately it was too late. Gradually his legs turned to stone, then the rest of his body reached his whole body.

Everyone who saw was shocked to see the strange event. The stone was finally pushed aside by people and propped on a cliff, until now the rock is still there and is called the weeping stone.





istihsan dan kedudukannya sebagai dalil

  BAB I PENDAHULUAN   Setelah abad ketiga/kesembilan, para ahli ushul fiqh mazhab Hanafi mengambil langkah-langkah yang memutus citra ...